PT Pupuk Indonesia (Persero) mengambil langkah strategis dengan memangkas ketergantungan impor sulfur dari Timur Tengah guna mengamankan rantai produksi nasional. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk mitigasi terhadap meningkatnya risiko gangguan logistik di kawasan Selat Hormuz pada Selasa (28/4/2026).
Data dari laporan Ekonomi menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku impor untuk produksi nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) mencapai 3 juta ton per tahun. Dari total volume tersebut, sekitar 32,9 persen pasokan masih didatangkan dari wilayah Timur Tengah.
Direktur Operasi Pupuk Indonesia Dwi Satryo Annurogo menegaskan bahwa sulfur merupakan komponen kritis yang sangat rentan terhadap gejolak keamanan di negara pemasok. Wilayah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait menjadi titik krusial dalam rantai pasok tersebut.
ÔÇ£Sulfur walaupun 5%, itu kami dapatkan dari negara-negara yang ini, konflik yang Selat Hormuz ini,ÔÇØ ujarnya dalam Food Summit, dikutip Selasa (28/4/2026).
Secara teknis, sulfur diolah terlebih dahulu menjadi asam sulfat sebagai bagian integral dari proses pembuatan pupuk. Guna menjaga stabilitas produksi, Pupuk Indonesia mulai mengalihkan fokus pengadaan dari sulfur mentah impor ke asam sulfat yang diproduksi oleh mitra dalam negeri.
Langkah pengamanan pasokan ini diwujudkan melalui kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan domestik. Perusahaan plat merah tersebut telah menjalin kesepakatan pasokan dengan PT Bripod Indonesia serta PT Amman Mineral Internasional Tbk.
ÔÇ£Kalau tidak dapat sulfur, kami dapatkan asam sulfat. Ini kami sudah membuat perjanjian dan akan berlanjut,ÔÇØ kata Dwi.
Manajemen menyatakan bahwa substitusi bahan baku ini akan mengurangi tekanan ketergantungan pada pasar luar negeri. Meski demikian, korporasi tetap mempertimbangkan sumber global alternatif seperti Kanada untuk menjaga fleksibilitas pasokan di tengah persaingan internasional.
ÔÇ£Memang tantangannya berebutan antara negara,ÔÇØ ujarnya.
Stabilitas pasokan bahan baku ini menjadi kunci utama bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan. Dwi Satryo menjelaskan bahwa kontribusi pupuk terhadap produktivitas tanaman nasional mencapai angka signifikan yakni sekitar 62 persen.