Puan Maharani Dorong Penggunaan Kemasan Organik Akibat Lonjakan Harga Plastik

Puan Maharani Dorong Penggunaan Kemasan Organik Akibat Lonjakan Harga Plastik
Foto: Ilustrasi Puan Maharani Dorong Penggunaan Kemasan Organik Akibat Lonjakan Harga Plastik.

Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong penggunaan kemasan dari bahan organik sebagai alternatif pengganti plastik yang mengalami lonjakan harga signifikan pada Rabu, 15 April 2026. Langkah ini dinilai sebagai momentum transisi menuju ekonomi hijau sekaligus solusi bagi pelaku UMKM yang terdampak kenaikan biaya produksi.

Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global dilaporkan telah mencapai angka 80 persen, yang kemudian memicu lonjakan harga produk plastik jadi di tingkat hilir sebesar 40 hingga 80 persen. Puan menyatakan bahwa selain harga yang lebih terjangkau, penggunaan bahan organik jauh lebih ramah lingkungan karena proses penguraiannya yang cepat.

"Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka, kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau," kata Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Mantan Menko PMK tersebut menyoroti tekanan ekonomi yang dialami pelaku usaha kecil, terutama pada sektor makanan dan minuman kemasan akibat sulitnya pasokan bahan baku plastik saat ini.

"Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi," papar Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Puan menyarankan agar para pedagang kembali melirik kearifan lokal dalam mengemas produk, seperti menggunakan dedaunan yang lazim digunakan pada masa lalu.

"Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu," tutur Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Puan menambahkan bahwa penggunaan daun pisang atau daun jati, yang masih populer di daerah seperti Jawa Tengah, terbukti efektif menjaga kualitas aroma dan keawetan makanan.

"Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tidak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tetapi juga bisa menambah nilai jual," ungkap Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Inovasi ini dianggap mampu menarik minat konsumen tertentu melalui keunikan presentasi produk tradisional yang ditawarkan.

"Termasuk dari segi keunikannya yang membuat beberapa kalangan masyarakat bisa menjadi daya tarik untuk membeli," sambung Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Selain aspek ekonomi, Puan menekankan bahwa peralihan ke kemasan organik merupakan bentuk dukungan terhadap pengelolaan limbah dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

"Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengampanyekan gerakan ramah lingkungan," ujar Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Kebutuhan pengurangan sampah plastik kian mendesak mengingat laporan PBB mencatat jutaan ton limbah plastik terus mencemari ekosistem perairan dunia setiap tahunnya.

"Jadi, semangat kita di sini adalah, selagi harga plastik sedang tinggi harganya, we bisa mencari alternatif penggunaan kemasan lain, yang sekaligus mengurangi sampah plastik," ujar Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Kendati demikian, Puan meminta pemerintah menyiapkan regulasi dan sosialisasi yang matang agar masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan pola kemasan ini secara bertahap.

"Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai," ucap Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Kenaikan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan global, terutama akibat konflik di wilayah Timur Tengah yang mengganggu jalur logistik utama. Dilansir dari Nasional, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan bahwa harga bahan baku melonjak dari US$ 1.000 menjadi US$ 1.800 per metrik ton.

"Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar US$ 1.000 per metrik ton, kini sudah naik hingga US$ 1.800. Artinya kenaikannya hampir 80%," ujar Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.

Dampak ini mulai dirasakan luas setelah masa libur Lebaran usai, di mana sebelumnya industri masih berupaya menahan kenaikan harga demi menjaga stabilitas distribusi domestik.

"Selama hampir 20 hari kita fokus distribusi Lebaran. Begitu pasar kembali normal, harga langsung melonjak dan pelaku usaha kaget," ujar Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.

Artikel terkait

Rekomendasi