PT Astra Graphia Tbk (ASGR) memutuskan pembagian dividen tahun buku 2025 sebesar Rp325,05 miliar atau Rp241 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta pada Rabu (15/4/2026). Nilai tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen sebesar 120% dari total laba bersih tahun lalu, seperti dilansir dari Investortrust.
Alokasi dividen tersebut bersumber dari perolehan laba bersih tahun 2025 yang mencapai Rp270,61 miliar, ditambah pemanfaatan saldo laba ditahan tahun buku 2024 sebesar Rp54,43 milar. Manajemen emiten menjadwalkan pembayaran sisa dividen senilai Rp211 per saham atau total Rp284,59 miliar pada 13 Mei 2026, setelah dikurangi dividen interim sebesar Rp30 yang telah dibayarkan sebelumnya.
Presiden Direktur ASGR Hendrix Pramana menjelaskan bahwa penentuan jumlah dividen ini telah mengkaji proyeksi pertumbuhan perseroan ke depan secara matang.
ÔÇ£Kami senantiasa berusaha memiliki kebijakan pembayaran dividen, berdasarkan keseimbangan pengembalian untuk pemegang saham dan juga untuk pertumbuhan Astragraphia di masa mendatang,ÔÇØ ujar Hendrix Pramana, Presiden Direktur ASGR.
Pemberian hak dividen ini ditujukan bagi pemegang saham yang namanya sah terdaftar hingga masa penutupan bursa atau cum dividen per 27 April 2026. Selain menyetujui pembagian keuntungan, agenda RUPST tersebut turut mengesahkan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025 yang meraih opini wajar dalam semua hal material.
Sepanjang tahun 2025, ASGR mencatatkan pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 32% secara tahunan menjadi hampir Rp271 miliar. Lonjakan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan bersih perusahaan yang terkerek naik 6% menjadi kisaran Rp2,99 triliun.
Direktur Keuangan Astra Graphia Trivena Nalsalita mengonfirmasi bahwa ekspansi di lini solusi teknologi informasi menjadi motor utama penggerak pendapatan perseroan. Sektor tersebut saat ini dioptimalkan melalui transformasi menjadi layanan profesional teknologi informasi.
Peningkatan profitabilitas ini juga dipicu pertumbuhan laba kotor konsolidasian sebesar 12% yang ditopang oleh segmen solusi dokumen serta solusi teknologi informasi. Faktor pendukung lain meliputi efisiensi operasional, digitalisasi sistem bisnis, inovasi berkelanjutan, serta pengelolaan arus kas yang lebih maksimal.