Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, mendorong penguatan infrastruktur teknologi melalui penambahan unit kamera guna mengoptimalkan kinerja Video Assistant Referee (VAR) pada kompetisi Super League 2025-2026. Langkah ini bertujuan menjaga integritas pertandingan serta meminimalisir perdebatan mengenai keputusan krusial di lapangan.
Dorongan ini muncul setelah adanya perdebatan terkait keabsahan gol Alex Martins dalam laga Dewa United melawan Persib Bandung di Banten International Stadium, Senin (20/4/2026). Insiden tersebut memicu polemik lantaran bola dianggap telah keluar garis lapangan sebelum gol tercipta, sebagaimana dilansir dari Bola.
Ogawa menilai ketersediaan sudut pandang tambahan dari kamera di garis gawang akan sangat membantu wasit dalam mengambil keputusan akurat pada momen kritis. Meski bukan syarat wajib dalam protokol teknologi bantuan wasit, fasilitas tersebut diyakini mampu meningkatkan standar keadilan di lapangan hijau.
"Sebenarnya kamera garis gawang tidak wajib dalam penggunaan VAR. Tapi kalau ada, tentu akan jauh lebih baik," kata Ogawa, Ketua Komite Wasit PSSI.
Pihak Komite Wasit menyadari bahwa penyediaan infrastruktur tambahan sangat bergantung pada kesiapan pengelola liga profesional Indonesia. Ogawa menekankan pentingnya pemahaman terhadap kondisi fasilitas yang tersedia saat ini sembari berharap adanya peningkatan di masa mendatang.
"Kami tidak bisa memaksakan kepada liga profesional. Namun ke depan, jika ada dua kamera di garis gawang, itu akan membuat keputusan lebih adil bagi semua pihak dalam sepak bola." ujar Ogawa.
Pria asal Jepang tersebut menambahkan bahwa posisi Komite Wasit saat ini adalah memaksimalkan sumber daya yang ada. Peningkatan jumlah kamera dianggap menjadi solusi jangka panjang untuk mencapai standar turnamen internasional.
"Tapi posisi kami harus memahami kondisi saat ini. Kami harus mengelola kondisi yang ada," tambah Ogawa.
Sebagai perbandingan, kompetisi domestik saat ini baru mengoperasikan 13 titik kamera untuk sistem VAR. Jumlah tersebut jauh di bawah standar Piala Dunia 2022 yang menggunakan hingga 50 kamera per pertandingan untuk menjamin akurasi tinjauan insiden sensitif.
"Kejadian ini sama seperti waktu Jepang di Piala Dunia 2022," jelas Ogawa.
Mengenai prosedur dalam laga Dewa United vs Persib, Ogawa menegaskan bahwa wasit telah bekerja sesuai protokol. Jika tidak ditemukan bukti visual yang 100 persen meyakinkan untuk mengubah keadaan, maka keputusan awal pengadil di lapangan harus tetap dipertahankan.
"Jika wasit atau asisten wasit sudah berusaha mengambil posisi terbaik dan melihat situasi, jika 100 persen yakin bola keluar, maka harus memberi sinyal." kata Ogawa.
Intervensi VAR hanya dapat dilakukan apabila terdapat bukti rekaman yang sangat jelas untuk menganulir atau mengonfirmasi sebuah kejadian. Prinsip dasar ini menjadi pegangan utama wasit dalam memimpin setiap pertandingan di liga.
"Namun jika tidak 100 persen yakin, keputusan di lapangan harus dipertahankan. Kemudian VAR akan mengecek," jelas Ogawa.
Penjelasan tersebut ditutup dengan penegasan bahwa perubahan keputusan hanya bisa direkomendasikan jika teknologi memberikan bukti yang tidak terbantahkan. Tanpa bukti tersebut, kewenangan penuh tetap berada pada keputusan yang diambil wasit saat kejadian berlangsung.
"Jika VAR tidak menemukan bukti 100 persen bola keluar atau masuk, maka keputusan awal harus tetap dipertahankan. Jika ada bukti 100 persen, barulah direkomendasikan perubahan," pungkas Ogawa.