Komite Disiplin PSSI menjatuhkan lima sanksi berat kepada Persipura Jayapura menyusul sejumlah insiden kerusuhan suporter pada laga melawan Adhyaksa FC Banten di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Jumat (8/5/2026).
Keputusan tegas dari otoritas tertinggi sepak bola Indonesia tersebut diambil setelah panitia pelaksana pertandingan dan suporter tuan rumah melakukan rentetan pelanggaran disiplin, seperti dilansir dari Bola.
Hukuman yang diberikan meliputi akumulasi denda finansial dengan nilai total mencapai Rp240 juta serta larangan menyelenggarakan pertandingan kandang didampingi penonton sepanjang musim kompetisi 2026-2027.
Pelanggaran pertama yang memicu denda sebesar Rp125 juta adalah aksi pelemparan empat buah bom asap dari arah tribun setelah peluit panjang berbunyi, yang disertai penyalaan suar serta ledakan petasan di seluruh area tribun penonton.
Sanksi paling berat dipicu oleh tindakan para pendukung yang nekat menerobos masuk ke dalam area lapangan, melakukan perusakan terhadap fasilitas stadion, hingga mengejar perangkat pertandingan dan tim tamu.
Akibat aksi anarkis di dalam dan luar area stadion tersebut, klub berjuluk Mutiara Hitam dijatuhi hukuman pengosongan tribun kandang selama satu musim penuh serta denda tambahan senilai Rp30 juta.
PSSI juga menetapkan denda ekstra sebesar Rp50 juta karena banyaknya jumlah suporter yang menginvasi lapangan sepak bola sesaat setelah laga krusial tersebut berakhir.
Pihak panitia pelaksana pertandingan tidak luput dari tindakan disipliner berupa denda Rp20 juta akibat dinilai tidak mampu menjaga ketertiban umum dan mengendalikan sistem keamanan di area laga.
Denda terakhir senilai Rp15 juta diputuskan akibat adanya aksi pelemparan botol air minum kemasan ke arah lapangan yang dilakukan oleh penonton dari berbagai sudut tribun.
Rangkaian sanksi ini menjadi salah satu hukuman finansial terbesar dalam sejarah pelaksanaan babak Championship 2025-2026.
Pertandingan play-off itu sendiri berakhir dengan keunggulan Adhyaksa FC Banten atas Persipura melalui skor akhir 0-1, yang sekaligus memastikan tim Mutiara Hitam gagal promosi menuju kasta tertinggi sepak bola Indonesia.