Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi berat kepada Persipura Jayapura berupa larangan menggelar pertandingan kandang dengan penonton selama semusim penuh pada 2026/2027 akibat kerusuhan suporter di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, sebagaimana dilansir dari Detik Sport.
Hukuman tersebut diberikan setelah laga playoff promosi menuju Super League melawan Adhyaksa FC berakhir dengan kekalahan Persipura 0-1. Suporter yang kecewa kemudian merusak fasilitas stadion dan membakar kendaraan di area parkir.
Pihak manajemen Persipura Jayapura langsung merilis pernyataan sikap resmi untuk merespons keputusan tegas dari badan yudisial federasi sepak bola domestik tersebut.
"Kami memahami bahwa disiplin, keamanan, serta kepatuhan terhadap regulasi FIFA dan PSSI merupakan bagian penting dalam membangun sepakbola Indonesia yang lebih baik dan profesional," bunyi pernyataan Persipura.
Manajemen klub berjulukan Mutiara Hitam itu menilai sanksi pengosongan stadion bukan jalan keluar terbaik, melainkan diperlukan pola pembinaan yang berkelanjutan bagi para pendukung.
"Yang tidak kalah penting ke depannya adalah edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada para suporter, pendukung, serta penonton secara umum - membangun kesadaran yang lebih baik tentang bagaimana mendukung tim secara bertanggung jawab, menghormati regulasi, menjaga ketertiban, serta saling menjaga satu sama lain selama pertandingan berlangsung. Budaya disiplin dalam sepakbola tidak dapat dibangun hanya melalui hukuman semata, tetapi juga melalui pembinaan, komunikasi, dan rasa tanggung jawab bersama."
Persipura juga menekankan komitmennya untuk mengarahkan basis masa pendukung mereka agar dapat menciptakan iklim pertandingan yang jauh lebih kondusif dan aman ke depan.
"Persipura percaya bahwa para pendukung memiliki kecintaan dan semangat yang besar terhadap klub ini. Dengan arahan yang tepat, koordinasi yang lebih baik, serta rasa tanggung jawab bersama, kami percaya kita dapat menciptakan atmosfer sepakbola yang lebih sehat, aman, tertib, dan disiplin, yang benar-benar mencerminkan semangat sepakbola Indonesia."
Sanksi tanpa kehadiran penonton ini dipastikan memperberat kondisi finansial Persipura pada musim 2026/2027 akibat hilangnya pendapatan tiket dan potensi penurunan minat sponsor. Manajemen berharap ada kerja sama nyata dengan federasi untuk melakukan pembinaan komunitas.
"Sebagai bagian dari solusi ke depan, kami juga berharap PSSI dapat bersama-sama dengan klub melakukan pengawasan, pendampingan, serta program sosialisasi yang lebih aktif kepada suporter dan penonton secara umum. Kami percaya pendekatan kolaboratif seperti workshop bersama, edukasi rutin, forum komunikasi, dan pembinaan langsung kepada komunitas suporter dapat menjadi langkah positif dalam membangun budaya sepakbola Indonesia yang lebih dewasa dan bertanggung jawab."
Klub asal Papua tersebut menjadikan sanksi berat ini sebagai momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan demi kemajuan sepak bola nasional.
"Kami berharap momentum ini dapat menjadi bahan refleksi dan perbaikan bagi seluruh pihak - klub, suporter, penyelenggara, maupun seluruh pemangku kepentingan - agar sepakbola Indonesia dapat terus berkembang dengan kedewasaan, persatuan, profesionalisme, serta budaya suportif yang lebih baik di masa depan," tutup pernyataan Persipura.