PSS Sleman gagal meraih gelar juara Championship Liga 2 2025-2026 setelah menderita kekalahan dari Garudayaksa FC melalui drama adu penalti di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (9/5/2026). Skuat berjuluk Super Elang Jawa tersebut sempat menyamakan kedudukan menjadi 2-2 sebelum akhirnya kalah 3-4 di babak adu penalti.
Dilansir dari Bola, pertandingan partai final ini memperlihatkan dominasi awal Garudayaksa FC yang unggul dua gol pada babak pertama melalui aksi Alfin Kelilauw di menit ke-23 dan penalti Everton Nascimento pada menit ke-31. PSS Sleman kemudian bangkit di babak kedua melalui sepasang gol yang diborong oleh Gustavo Tocantins pada menit ke-61 dan masa injury time 90+3.
Kegagalan eksekusi penalti oleh Gustavo Tocantins dan Kevin Gomes di babak penentuan memastikan gelar juara jatuh ke tangan tim tamu. Meski demikian, hasil ini tetap mengonfirmasi promosi PSS Sleman ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan bersama Garudayaksa FC dan Adhyaksa FC.
Pelatih PSS Sleman, Ansyari Lubis, memberikan perhatian khusus pada performa anak asuhnya yang sempat tertinggal di awal laga. Ia mengakui adanya penurunan konsentrasi yang dimanfaatkan dengan baik oleh lawan pada paruh pertama pertandingan.
"Kita menyoroti di bawah pertama kita sedikit kehilangan fokus hingga Garudayaksa bisa mengambil permainan dengan sangat baik," kata Ansyari.
Strategi pergantian pemain di babak kedua membawa dampak signifikan bagi intensitas serangan tuan rumah. Masuknya Irvan Mofu menggantikan Terens Puhiri dinilai Ansyari berhasil mengubah alur permainan meskipun laga berakhir pahit di babak adu penalti.
"Tetapi di bawah kedua kita bermain sangat luar biasa, kita bisa menyamakan kedudukan," tambah Ansyari.
Ansyari tetap menunjukkan sikap sportif atas keberhasilan lawan meskipun harus merelakan trofi di hadapan pendukung sendiri. Ia menganggap banyak variabel yang menentukan hasil dalam sebuah adu penalti yang penuh tekanan.
"Tapi itulah hasil dari pertandingan adu penalti, semuanya hanya bisa kita anggap itu banyak faktor ya," tambah dia.
Pertandingan final ini dipandang sebagai tontonan berkualitas bagi para penggemar sepak bola yang memadati stadion. Ansyari memuji jalannya pertandingan yang berlangsung kompetitif hingga menit terakhir.
"Jadi selamat buat Garudayaksa yang bisa menjadi juara, terutama ini partai final yang saya kira cukup bagus untuk kita lihat dan kita tonton," jelas pelatih berusia 55 tahun tersebut.
Mengenai keputusan taktikalnya, Ansyari menegaskan bahwa penempatan Irvan Mofu bertujuan untuk meningkatkan agresivitas di lini depan. Langkah tersebut terbukti efektif memaksa pertandingan berlanjut ke babak tos-tosan.
"Makanya ketika di babak kedua kita memasukkan Mofu untuk memperkaya, memperkuat serangan kita," jelas Ansyari.
Mantan pemain timnas tersebut tetap memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh anggota tim. Baginya, daya juang yang ditunjukkan para pemain hingga detik terakhir merupakan pencapaian yang patut dibanggakan terlepas dari hasil akhir.
"Dan itu terbukti, tapi sepak bola tidak bisa dihitung hanya di satu babak. Jadi saya kira ini hasil yang cukup luar biasa buat seluruh pemain dan apresiasi yang tinggi-tingginya buat mereka," kata Ansyari.