PADA zaman berkembangnya medsos virtual yang menuntut updating status demi citra, menurut riset psikolog Profesor Rory O'Connor, penderitaan terbesar manusia sering kali bukanlah berasal dari masalah finansial atau kesehatan, melainkan berasal dari faktor psikologi internal, yaitu kebiasaan memusingkan omongan orang lain yang menuntut kesempurnaan sosial.
Terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya dan puncaknya ialah bunuh diri. Dalam bahasa Abraham Maslow, itu berarti kebutuhan pada penghargaan/pengakuan sosial. Tulisan ini ingin mengkajinya sekilas dengan berbasis Idul Adha.
Di antara yang dipentingkan Idul Adha dan haji pra dan pasca-Idul Adha (9-13 Zulhijah) ialah tauhid maqshudiyyah, keyakinan dan sikap dengan menjadikan Allah sebagai sumber motivasi/tujuan, bukan pamrih kepada selain-Nya, dengan menjadi hamba Allah sebagai makna hidup (punya kecerdasan spiritual yang membahagiakan batin). Itu berarti bersikap ikhlas, tidak memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai motif.
Ikhlas ialah menjaga kebeningan hati karena motif ingin mendapatkan kerelaan Allah semata, bukan selain-Nya. Dalam Idul Adha/haji, seorang yang ikhlas mesti tak mempermasalahkan tiadanya pengakuan manusia, tidak sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Hal itu disebabkan ikhlas berarti tidak adanya riyâ, pamrih lain, apalagi riyâ dalam Islam merupakan syirik khafi (kemusyrikan samar).
Hal yang dipentingkan orang yang ikhlas ialah pengakuan Allah (catatan amal baik malaikat-Nya), dan itu sudah cukup. Andai memperoleh pengakuan manusia lain, itu hanya dilihat sebagai akibat sampingan ikhlas saja. Idul Adha/haji, karenanya, membebaskan manusia dari belenggu seperti ingin memperoleh pengakuan sosial melalui medsos.
Karena itu, dalam Al-QurÔÇÖan pun, saat seorang berkurban di Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq setelahnya, baik dengan kambing maupun sapi, yang sampai kepada Allah hanyalah ketakwaan pelakunya (QS 22: 37), bukan dagingnya, karena daging kurban diserahkan kepada manusia yang jasmaniah. Itu artinya keikhlasan pelakunya, sebagaimana sikap Nabi Ibrahim dan Habil, pelaku kurban pertama, mengingat ketakwaan ialah sikap utama para Nabi, sebagaimana tampak dalam QS 33: 39.
Sebab itu, mereka diberi anugerah keikhlasan karena usaha mereka (QS 15: 39-40).
Dalam haji yang dilakukan pra dan pasca-Idul Adha motif karena Allah (tauhid dan keikhlasan) lebih ditekankan lagi, dengan ayat kewajiban haji berbeda dengan ibadah, seperti salat dan puasa, dimulai dengan kata: Walillaahi (Dan karena Allah-lah), diwajibkan haji kepada manusia (QS 3: 97). Itu disebabkan ibadah haji sangat berat yang membutuhkan banyak biaya finansial, bahkan banyak yang wafat saat melakukannya.
Tentu saja tauhid dan keikhlasan terdapat juga dalam takbir selama 9-13 Zulhijah, bacaan talbiah haji; ritual melempar tiga kali jumrah agar terbebas dari setan dan nafsu berbuat zalim; dan bacaan saat tawaf (tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan hauqalah). Semua dilakukan pra dan pasca-Idul Adha (9-13 Zulhijah).
Motif pengakuan sosial/psikologi memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya dalam bahasa agama adalah riyaÔÇÖ. RiyaÔÇÖ berasal dari kata raÔÇÖ├ó-yar├ó, yang berarti melihat. Riya' adalah sikap mental/psikologi diri seseorang yang beramal/bekerja/hidup karena ingin dilihat orang lain demi motif dunia (materiel), baik harta, takhta, maupun cinta/rasa hormat (pengakuan sosial). RiyaÔÇÖ adalah kebalikan dari ikhlas/tulus hati/bening di atas.
Karena keikhlasan ialah hal esensial, ada banyak bahaya riyaÔÇÖ/motif pengakuan sosial, sikap kebalikan dari ikhlas. Pertama, membuat amal yang dikerjakan tak memperoleh pahala di akhirat. Di akhirat pun, sebagian kaum ilmuwan, dermawan, dan kaum yang rajin beribadah ritual yang mengaku bahwa dirinya beribadah karena Allah. Akan tetapi, Allah menolaknya.
Firman Allah, kalian sudah mendapat pahala di dunia dengan disebut kaum dermawan sebagai motif pengakuan sosial bagi kalian, atau agar dihargai dan memperoleh kemuliaan dunia lainnya sebagai ilmuwan, dan agar disebut sebagai ahli ibadah.
Kedua, akan memiliki sifat/karakter buruk lainnya, mengingat riyaÔÇÖ ialah sifat orang munafik (QS Al-Baqarah/2: 9-10). Mereka bersikap lain di kata, lain pula di hatinya. Bahkan, tidak ada kesatuan antara hati, lisan, dan tindakan mereka (tidak berintegritas). Dalam perkataan, mereka berucap karena Allah, padahal bukan. Lihat misalnya QS Al-MaÔÇÖun/107.
Dalam surah itu disebut bahwa orang-orang munafik, selain bersikap riyaÔÇÖ dalam salatnya, tak mau berbagi kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Juga tak mau membantu dalam bentuk selain harta. Mereka akan ditimpa sikap ÔÇÿujub (tinggi hati), senang pada nama besar (sumÔÇÖah), dan takabur (menganggap orang lain lebih rendah daripaa dirinya), alias memiliki sikap/karakter superioritas seperti Qabil, anak Nabi Adam yang korbannya tak diterima.
Mereka juga tak punya kemampuan berintegrasi sosial sebagaimana kaum munafik yang mengundurkan diri dari Perang Uhud yang membuat kekuatan Nabi berkurang. Itu artinya juga mereka bersikap hiqd kepada Nabi (dengki) dan hasud (ingin kenikmatan yang diraih orang lain sirna). Bahkan, dalam pengalaman Qabil bisa membunuh orang lain. Karena itu, hidayah pun tak mungkin sampai kepada hati mereka karena mereka tak taat agama dan juga aniaya/zalim (QS Al-Baqarah/2: 258, QS Al-Maidah/5: 107).
Ketiga, pelakunya akan mengalami kelelahan jiwa dan tak mungkin bahagia. Alasannya, karena orang yang tak ikhlas, yang menjadikan pengakuan sebagai motif dalam hidup (beribadah murni dan sosial), berarti mengharapkan manusia memberikan dirinya harta, takhta, dan cinta/hormat. Namun, umumnya manusia tak bisa diharapkan dan diandalkan.
Sikap tak berterima kasih, bahkan berkhianat, ialah sikap manusia umumnya. Umumnya manusia hanya dekat dengan seseorang pada saat jaya, sukses harta dan kekuasaan. Pada saat dirundung kemalangan/bangkrut, mereka akan menjauh.
Ada kisah, Luqman al-Hakim hendak pergi ke pasar dengan anak laki-lakinya dengan membawa keledai. Awalnya, yang naik keledai itu ialah Luqman sendiri. Namun, kata orang, Luqman ialah orangtua yang tak sayang anak. Lalu dibalik, yang naik keledai ialah anaknya. Anaknya pun dibilang manusia sebagai anak yang tak tahu hormat dan berbuat baik kepada orangtua. Anaknya pun menangis karenanya. Akhirnya, keduanya tak menaiki keledai. Namun, ujar orang-orang pasar, mereka ialah orang yang bodoh sekali. Mempunyai keledai, tapi tak diambil manfaatnya.
Keempat, orang yang riya' tak mungkin bisa idealis, bisa bekerja dan hidup serius, bekerja keras demi mewujudkan mimpi diri sendiri, orangtua, masyarakat sekitar, apalagi bangsa/negara, atau agama. Mereka hanya bekerja sekadarnya, bahkan serampangan, yang saat bos tak ada mereka berleha-leha karena bekerja hanya ingin mendapat uang semata, kalau bisa, uang tambahan/korupsi.
Mereka ialah kaum budak, yang bekerja karena takut hukuman dan demi imbalan material semata. Mereka tak punya makna hidup, dengan hidup mereka bukan untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang lain yang membuat hati bahagia. Mereka pun bukan para hamba Tuhan, yang bekerja sebagai pengabdian semata karena-Nya.
Terakhir, mudah untuk digoda Iblis. QS al-Hijr/15: 39-40 secara harfiah menyebut: ÔÇØIa (Iblis) berkata, 'Karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka (manusia) di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali, hamba-hamba-Mu yang diberi anugerah keikhlasan'.ÔÇØ Wallahu a'lam.
- Media Sosial Sebahaya Rokok, Inggris Pertimbangkan Larangan bagi Anak 26/5/2026 20:07 Laporan Academy of Medical Royal Colleges menyebut media sosial sebahaya rokok bagi kesehatan mental anak. Inggris pertimbangkan larangan akses di bawah 16 tahun.
- Media Sosial Dorong Perubahan Preferensi 25/5/2026 18:17 Perubahan gaya hidup membuat pembeli rumah kini lebih mengutamakan kenyamanan, fungsi ruang, dan lingkungan hunian yang mendukung aktivitas sehari-hari.
- 5 Jenis Aplikasi Rakus Memori yang Bikin HP Lemot dan Cara Mengatasinya 24/5/2026 20:55 HP sering lemot dan memori penuh? Kenali jenis aplikasi rakus memori dan segera hapus atau ganti dengan versi lite agar performa ponsel kembali ngebut.
- Plt Bupati Bekasi Laporkan Tiga Akun Medsos ke Polisi Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik 23/5/2026 19:10 Dua akun Facebook bernama Rahmat Iton dan Carlisle Fitri disebut membuat unggahan yang berisi narasi terkait Asep Surya Atmaja dan keluarganya pada 10 Maret 2026.
- Komdigi Siapkan Aturan Baru Pendaftaran Media Sosial untuk Atasi Manipulasi Usia Anak 22/5/2026 18:45 Maraknya fenomena manipulasi usia ini menjadi pengingat penting bahwa keamanan digital anak di era saat ini sangat penting untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi.