Pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, mengakui bahwa perjuangan mempertahankan gelar juara Liga Champions musim ini jauh lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Pernyataan ini muncul setelah tim asuhannya berhasil melewati laga dramatis melawan Arsenal di partai puncak.
Pertandingan final Liga Champions 2026 yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, tersebut berakhir dengan skor 1-1 hingga babak tambahan waktu selesai. Ketatnya permainan memaksa penentuan pemenang dilakukan melalui drama adu penalti yang menegangkan.
Drama Adu Penalti di Puskas Arena
Final kali ini tercatat sebagai edisi ke-13 dalam sejarah kompetisi tertinggi antarklub Eropa yang pemenangnya harus ditentukan lewat titik putih. PSG akhirnya keluar sebagai pemenang setelah unggul dalam adu ketangkasan tersebut.
Kegagalan dua eksekutor Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel, menjadi kunci keberhasilan klub asal Perancis tersebut. Sementara itu, dari kubu PSG, hanya Nuno Mendes yang gagal menjalankan tugasnya sebagai algojo penalti.
Berikut adalah ringkasan hasil pertandingan final antara PSG melawan Arsenal:
- Lokasi Pertandingan: Puskas Arena, Budapest, Hongaria.
- Skor Waktu Normal & Extra Time: 1-1 (Pertandingan berjalan sangat sengit selama 120 menit).
- Skor Adu Penalti: 4-3 untuk kemenangan Paris Saint-Germain.
- Pemain Arsenal Gagal Penalti: Eberechi Eze dan Gabriel Martinelli.
- Pemain PSG Gagal Penalti: Nuno Mendes.
Keberhasilan ini membuat Les Parisiens resmi menyandang status sebagai juara bertahan yang sukses mempertahankan trofi Si Kuping Besar di lemari koleksi mereka.
Ambisi dan Kebanggaan Luis Enrique
Dalam wawancara bersama Canal+ usai pertandingan, Luis Enrique menekankan bahwa tingkat kesulitan laga ini jauh melampaui final musim lalu. Ia sudah memprediksi sejak awal bahwa menghadapi Arsenal akan menjadi tantangan yang luar biasa berat bagi timnya.
Pelatih asal Spanyol tersebut menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen tim sepanjang musim. Menurutnya, kemenangan ini tidak hanya bermakna besar bagi klub, tetapi juga bagi seluruh kota Paris.
Enrique merasa timnya sangat layak merayakan keberhasilan ini setelah melalui partai final yang menguras fisik dan mental. Ia pun langsung bergabung dengan para penggemar di tribun untuk merayakan momen bersejarah tersebut bersama-sama.
Catatan Sejarah Baru PSG dan Luis Enrique
Kemenangan ini membawa PSG menyamai catatan gemilang Real Madrid sebagai tim yang mampu menjuarai Liga Champions dua musim berturut-turut di era modern. PSG juga mengukir sejarah sebagai klub Perancis pertama yang meraih prestasi tersebut secara beruntun.
Rincian pencapaian prestisius yang diraih Luis Enrique dan PSG:
| Kategori Prestasi | Catatan Sejarah |
|---|---|
| Status Juara Berturut-turut | Klub kedua setelah Real Madrid (era 2016-2018) yang mampu mempertahankan gelar. |
| Rekor Klub Perancis | Tim pertama dari Ligue 1 yang menjuarai Piala Eropa/Liga Champions dua kali beruntun. |
| Pencapaian Luis Enrique | Masuk dalam jajaran pelatih elit pemilik tiga trofi Liga Champions. |
Data di atas menunjukkan betapa dominannya PSG dalam kancah sepak bola Eropa selama beberapa tahun terakhir di bawah arahan taktik Enrique. Dengan koleksi tiga gelar, Luis Enrique kini bersanding dengan pelatih legendaris seperti Bob Paisley, Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, dan Zinedine Zidane.