Sektor otomotif nasional diprediksi menghadapi tekanan besar menyusul fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) dan berakhirnya kebijakan insentif kendaraan ramah lingkungan. Kondisi ini disampaikan oleh manajemen PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa malam (14/4).
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, memberikan penegasan bahwa dinamika industri saat ini menciptakan tantangan bagi pertumbuhan pasar roda empat. Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu keraguan di sisi konsumen sebelum memutuskan pembelian unit kendaraan baru, sebagaimana dilansir dari Detik Oto.
"Ya (pasar otomotif di masa depan) pasti akan berat," ujar Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Analisis internal menunjukkan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap volatilitas harga minyak mentah meskipun saat ini belum ada penyesuaian harga BBM di tingkat domestik. Di sisi lain, segmen kendaraan listrik belum mampu menjangkau daya beli luas setelah subsidi fiskal resmi dihentikan pada pengujung tahun lalu.
"I yakin harga BBM tinggi (di dunia) itu tak akan berlangsung lama. Nanti dia akan digedor produksi substitusinya, seperti bioetanol. Industri minyak juga nggak ingin (harganya terus naik)," tutur Bob Azam.
Upaya stabilisasi pasokan menjadi prioritas utama di tengah kondisi fiskal pemerintah yang terbatas. Penurunan penerimaan pajak menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak pemerintah dalam memberikan dukungan tambahan bagi industri manufaktur kendaraan.
"Sekarang tantangannya bagaimana cara menstabilkan suplai. Nah industri otomotif akan menghadapi tantang besar karena pemerintah fiskalnya juga terbatas kan. Mau dari mana? Penerimaan pajak turun," tambah Bob Azam.
Manajemen TMMIN mendorong adanya kebijakan alokasi anggaran yang lebih strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan dampak berantai yang positif bagi penguatan ekosistem industri otomotif di tengah keterbatasan ruang fiskal.
"Makanya sekarang pemerintah harus menertibkan diri untuk smart spending. Artinya apa? Pengeluaran harus memberikan multiplier effect untuk ekonomi. Jangan sampai ruang fiskal kita terbatas, nggak smart spending," kata Bob Azam.