Aktivitas intermediasi perbankan pada kuartal II 2026 diperkirakan bakal menunjukkan penguatan yang signifikan. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan penyaluran pembiayaan baru, pertumbuhan dana pihak ketiga, serta kebijakan penyaluran yang lebih akomodatif.
Data yang dikutip dari Money melalui Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini tetap terjaga. Meski demikian, lajunya diperkirakan lebih moderat dibandingkan pencapaian tahun lalu.
Pada kuartal I 2026, penyaluran kredit baru sebenarnya masih tumbuh meski mengalami perlambatan dibandingkan periode akhir 2025. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 38,74 persen, menurun dari posisi 88,92 persen pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan pada awal tahun ini didominasi oleh segmen kredit konsumsi dengan angka SBT mencapai 51,97 persen. Sementara itu, sektor Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja masing-masing mencatatkan SBT sebesar 37,33 persen dan 36,40 persen.
Memasuki periode April hingga Juni 2026, ekspektasi terhadap permintaan pembiayaan mengalami kenaikan yang tajam. Hal ini terlihat dari proyeksi SBT penyaluran kredit baru yang diprediksi melonjak hingga ke level 96,65 persen.
Kredit Modal Kerja masih menjadi prioritas utama dalam penyaluran dana tersebut, diikuti oleh Kredit Investasi dan pembiayaan konsumsi. Sektor industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran diprediksi menjadi tujuan utama aliran dana perbankan.
Pada kategori konsumsi, KPR/KPA tetap menjadi fokus utama perbankan dalam penyaluran dana ke masyarakat. Prioritas selanjutnya menyasar segmen Kredit Multiguna dan Kredit Tanpa Agunan (KTA) seiring membaiknya aktivitas ekonomi.
Pelonggaran Kebijakan dan Standar Kredit
Sejalan dengan kenaikan target penyaluran, perbankan berencana menerapkan kebijakan yang lebih longgar. Pada kuartal II 2026, standar penyaluran kredit diperkirakan berbalik arah menjadi lebih akomodatif dengan Indeks Lending Standard (ILS) negatif 2,88.
Pelonggaran ini mencakup beberapa aspek krusial seperti plafon kredit yang lebih tinggi, persyaratan agunan yang lebih fleksibel, hingga penyesuaian suku bunga. Fokus pelonggaran menyasar kredit UMKM, investasi, dan modal kerja.
Kondisi ini berbeda dengan kuartal I 2026 yang cenderung lebih berhati-hati, di mana bank sempat memperketat aspek jangka waktu dan administrasi. Penyesuaian kebijakan ini menjadi sinyal kesiapan bank menopang pertumbuhan ekonomi pertengahan tahun.
Penguatan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga
Sisi pendanaan juga menunjukkan tren positif dengan proyeksi peningkatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Secara kumulatif year to date, SBT DPK diperkirakan mencapai 87,85 persen, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar 69,80 persen.
Tabungan diproyeksikan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan DPK dengan SBT 82,47 persen. Disusul oleh giro sebesar 80,36 persen dan deposito yang diprakirakan mencatatkan angka 72,70 persen.
Likuiditas yang mumpuni dari penghimpunan dana ini dianggap krusial bagi perbankan. Dengan dana yang cukup dan standar kredit yang melonggar, fase ekspansi intermediasi perbankan diharapkan berjalan optimal pada kuartal kedua.
Outlook Intermediasi Tahun 2026
Walaupun prospek jangka pendek menguat, perbankan memprediksi pertumbuhan outstanding kredit hingga akhir 2026 akan melambat secara tahunan. Pertumbuhan diperkirakan berada di angka 8,06 persen (yoy), di bawah realisasi 2025 yang mencapai 9,69 persen.
Senada dengan kredit, pertumbuhan DPK pada akhir tahun 2026 juga diproyeksikan moderat di level 8,47 persen (yoy). Angka ini terpaut cukup jauh dari capaian pertumbuhan tahun 2025 yang menyentuh 13,83 persen.
BI mencatat bahwa meskipun ada perlambatan laju tahunan, kondisi ekonomi dan moneter yang positif tetap menjadi pondasi optimisme. Risiko penyaluran kredit yang tetap terjaga memastikan ruang pertumbuhan bagi industri perbankan nasional tetap terbuka lebar.