Bank investasi Goldman Sachs kembali merevisi naik proyeksi harga minyak dunia untuk kuartal IV-2026 akibat pengetatan pasokan global yang dipicu oleh gangguan produksi di Timur Tengah. Penyesuaian outlook terbaru ini diumumkan melalui catatan resmi perusahaan pada Minggu, 26 April 2026, di tengah ketidakpastian pasar energi global.
Dilansir dari Money, Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak mentah Brent menjadi 90 dollar AS per barrel dari posisi sebelumnya 80 dollar AS per barrel. Langkah ini diikuti oleh kenaikan proyeksi harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menjadi 83 dollar AS per barrel dari semula 75 dollar AS per barrel.
Peningkatan harga ini dipicu oleh penurunan output di kawasan Teluk dan terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven mengidentifikasi adanya tekanan besar terhadap ketersediaan stok global saat ini.
"Risiko ekonomi mungkin lebih besar daripada perkiraan dasar minyak mentah kami," tulis para analis Goldman Sachs.
Analisis tersebut mencatat bahwa dampak gangguan pasokan jauh lebih signifikan daripada asumsi awal yang dibuat oleh pihak bank investasi. Kenaikan harga produk olahan serta potensi guncangan pasokan yang masif diprediksi akan terus memberikan dukungan kuat terhadap pergerakan harga di pasar.
Laporan tersebut juga memperingatkan adanya kemungkinan penurunan inventori minyak global ke level yang sangat mengkhawatirkan jika gangguan terus berlanjut. Stok minyak dunia yang semula berada di angka 8,2 miliar barrel diperkirakan dapat merosot hingga di bawah 7,4 miliar barrel pada akhir Mei 2026.
Pihak bank investasi juga mencatat adanya risiko kenaikan yang kini jauh lebih dominan dibandingkan sebelumnya dalam laporan berkala mereka. Kondisi konflik yang belum mereda di titik-titik krusial ekspor minyak menjadi alasan utama pergeseran pandangan pasar tersebut.
"Risiko kenaikan harga minyak tetap signifikan," tulis para analis Goldman Sachs.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama bagi produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Data menunjukkan sekitar 14,5 juta barrel per hari produksi kawasan Teluk sempat mengalami gangguan teknis pada April 2026 akibat situasi konflik.
Kekhawatiran Goldman Sachs turut mencakup pasar produk olahan yang menghadapi risiko kemacetan di sisi distribusi dan pengolahan energi. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan harga pada komoditas bensin, solar, hingga bahan bakar pesawat yang dapat memperparah inflasi energi di tingkat global.
Meskipun harga 90 dollar AS per barrel menjadi acuan dasar, Goldman Sachs membuka peluang harga Brent menembus 115 dollar AS per barrel dalam skenario ekstrem. Hal ini dapat terjadi apabila pemulihan produksi di Timur Tengah tidak berlangsung cepat sementara cadangan energi global terus menipis.