Harga Emas Dunia Diproyeksikan Bergerak Antara US$ 4.444 Serta US$ 4.800

Harga Emas Dunia Diproyeksikan Bergerak Antara US$ 4.444 Serta US$ 4.800
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Diproyeksikan Bergerak Antara US$ 4.444 Serta US$ 4.800.

Fluktuasi harga emas dunia pada pekan depan diproyeksikan bakal bergerak dalam rentang nilai US$ 4.444 sampai US$ 4.800 per troy ounce akibat pengaruh kuat dari perkembangan situasi geopolitik global, dilansir dari Investor Daily pada Minggu (17/5/2026).

Penilaian mengenai pergerakan nilai komoditas tersebut didasarkan pada potensi penurunan maupun penguatan yang dipicu oleh dinamika hubungan internasional serta kondisi ekonomi global terbaru.

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan analisis terperinci mengenai titik pergerakan harga komoditas logam mulia tersebut dalam menghadapi dinamika pasar yang akan datang.

"Apabila melemah, support pertama itu di Rp 4.444 per troy ounce. Apabila harga koreksi kembali, di-support kedua Rp 4.307 per troy ounce, ingat Rp 4.307 per troy ounce," ungkap Ibrahim.

Ibrahim memaparkan bahwa potensi kenaikan nilai komoditas ini juga masih terbuka lebar dengan mengacu pada level resistance tertentu.

"Kalau seandainya naik lagi, resistance kedua yaitu di US$ 4.796. Ingat US$ 4.796 per troy ounce yang kemungkinan besar akan mendekati di level US$ 4.800 per troy ounce," imbuh Ibrahim.

Faktor geopolitik utama yang kini disorot meliputi negosiasi pembukaan Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan China, di samping eskalasi konflik berkepanjangan antara Iran dan Israel.

"Tetapi kalau Amerika masih ikut campur, kemudian Iran masih memblokade Selat Hormuz, ini akan berbalik, maka harga emas dunia, logam mulia akan mengalami penurunan. Ini kita tinggal melihat situasi dan kondisi ke depan," kata Ibrahim.

Perkembangan dagang internasional antara AS dan China turut dicermati pasar seiring rencana peningkatan pembelian produk pertanian, minyak mentah, hingga pesawat Boeing oleh pihak China.

"Situasi tersebut akan menenangkan pasar. Ini membuat kemungkinan besar perang dagang sedikit mereda di antara Amerika dengan China," ungkap Ibrahim.

Ibrahim mengaitkan inflasi tinggi di AS yang dipicu konflik Timur Tengah dengan potensi bertahannya kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang didukung Donald Trump.

"Bahwa dalam tahun ini kemungkinan besar suku bunga tinggi masih akan terus berlaku, walaupun dalam kepemimpinan Kevin Warsh yang didukung oleh Trump. Kenapa? Karena inflasi cukup tinggi," ucap Ibrahim.

Apabila inflasi global memaksa bank sentral dunia ikut menaikkan suku bunga demi meredam lonjakan harga energi dan pangan, nilai komoditas emas diprediksi akan mengalami tekanan penurunan.

"Ini yang membuat harga emas kemungkinan besar akan tergelincir," beber Ibrahim.

Meskipun terdapat risiko penurunan harga akibat kebijakan suku bunga, status emas sebagai aset aman diproyeksikan tetap memicu aksi beli dari bank sentral di wilayah China, India, Eropa, dan Amerika Latin.

"Ini akan dimanfaatkan oleh Bank Sentral global untuk melakukan pembelian. Bukan Bank Sentral global saja, masyarakat seluruh dunia kemungkinan besar akan mengoleksi logam mulia ini untuk investasinya," tandas Ibrahim.

Artikel terkait

Rekomendasi