Ahli strategi komoditas dari ING mempertahankan proyeksi optimistis terhadap penguatan harga emas dunia yang diperkirakan mampu menyentuh level US$ 5.000 per troy ounce pada akhir 2026. Prediksi ini tetap bertahan pada Rabu (13/5/2026) meski nilai logam mulia sempat terkoreksi hingga 12 persen akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penurunan harga emas belakangan ini dipicu oleh pecahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang berdampak pada fluktuasi harga minyak mentah global. Berdasarkan laporan Kitco News sebagaimana dilansir dari Investor Daily, faktor makroekonomi masih menjadi penentu utama pergerakan komoditas ini dalam jangka pendek.
Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING, menyoroti beberapa variabel krusial yang dapat menghambat tren kenaikan harga emas jika perundingan damai tidak membuahkan hasil. Tingginya harga energi dan kebijakan suku bunga ketat menjadi perhatian utama bagi para investor saat ini.
"Risiko penurunan utama adalah kegagalan perundingan perdamaian yang membuat harga energi tetap tinggi dan Fed tetap mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun," kata Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING.
Terhentinya dialog antara pihak Amerika Serikat dan Iran menambah ketidakpastian pasar setelah proposal terbaru dari Iran mendapatkan penolakan. Kondisi ini membuat jadwal gencatan senjata menjadi tidak menentu dan memperbesar risiko inflasi global yang berkelanjutan.
"Penolakan Trump terhadap proposal terbaru Iran membuat jangka waktu gencatan senjata tidak jelas dan risiko inflasi meningkat, yang membatasi ruang gerak bagi The Fed untuk melakukan pemotongan suku bunga," katanya.
Manthey menilai bahwa volatilitas saat ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan eksternal seperti nilai tukar dolar dan imbal hasil riil. Namun, ia meyakini daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) akan kembali mendominasi segera setelah hambatan makro tersebut mereda.
"Beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih dapat didominasi oleh kekuatan makro; khususnya imbal hasil riil, dolar, dan ekspektasi kebijakan The Fed. Setelah hambatan tersebut mulai mereda, dukungan mendasar pada harga emas akan kembali menguat," bebernya.
Fundamental harga emas diprediksi akan mendapatkan sokongan kuat pada paruh kedua tahun ini seiring dengan mendinginnya angka inflasi. Penurunan harga energi dan potensi kebijakan pelonggaran moneter oleh bank sentral Amerika Serikat menjadi katalis positif bagi pasar logam mulia.
"Pembelian oleh bank sentral dan pemulihan aliran ETF memberikan dukungan tambahan," ucapnya.