Harga emas Antam diprediksi akan mengalami pergerakan fluktuatif pada pekan depan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Dilansir dari Suara pada Minggu (26/4/2026), situasi geopolitik tersebut menjadi faktor utama yang membayangi arah pergerakan logam mulia di pasar domestik maupun internasional.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa instrumen investasi ini masih memiliki peluang untuk menguat secara signifikan. Namun, ia juga memberikan catatan mengenai adanya risiko koreksi harga yang perlu diantisipasi oleh para pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi yang tidak menentu.
"Kalau seandainya naik, kemungkinan besar di 4.779 dolar AS per troy ounce. Kemudian emas antamnya di Rp 2.865.000 per gram," ujar Ibrahim, Pengamat Mata Uang.
Ibrahim memaparkan bahwa saat ini harga emas dunia tercatat berada di kisaran 4.708 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, untuk harga emas domestik saat ini masih tertahan pada level Rp 2.845.000 per gram sebelum memasuki periode perdagangan pekan mendatang.
"Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Yang pertama adalah faktor geopolitik. Kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika. Kemudian yang ketiga kebijakan bank sentral. Kemudian yang keempat adalah suplai dan limen," papar Ibrahim, Pengamat Mata Uang.
Penjelasan tersebut merujuk pada ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel sebagai sentimen utama. Konflik di kawasan tersebut dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga energi yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan inflasi di tingkat global.
"Artinya apa? Minggu depan ini, akhir pekan, akhir bulan April ini cukup rusial. Apakah akan terjadi perang atau akan terjadi perdamaian di wilayah Timur Tengah," kata Ibrahim, Pengamat Mata Uang.
Selain faktor keamanan, arah kebijakan suku bunga dan potensi pergantian pimpinan bank sentral di Amerika Serikat turut menjadi sorotan. Di sisi lain, fenomena akumulasi cadangan emas oleh negara-negara berkembang menjadi penopang kekuatan harga di pasar global.
"Negara-negara anggota BRIS sudah kembali memumpuk, membeli emas logam mulia sebagai cadangan devisanya," pungkas Ibrahim, Pengamat Mata Uang.
Kelompok negara BRICS dilaporkan terus aktif meningkatkan kepemilikan emas mereka guna memperkuat cadangan devisa masing-masing negara anggota. Pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada apakah tren penguatan ini mampu menembus level resistance baru atau justru terjatuh ke level support.