Rupiah Berisiko Melemah ke Rp22.000 Per Dolar AS pada Mei 2026

Rupiah Berisiko Melemah ke Rp22.000 Per Dolar AS pada Mei 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Berisiko Melemah ke Rp22.000 Per Dolar AS pada Mei 2026.

Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga penghujung Mei 2026. Pelemahan ini diperkirakan dapat membawa mata uang garuda menyentuh level psikologis baru yang cukup dalam.

Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi meramal nilai tukar rupiah berpotensi terus memburuk, bahkan tidak menutup kemungkinan menembus angka Rp22.000. Faktor utama pemicunya adalah situasi geopolitik global yang belum stabil serta lonjakan indeks dolar AS.

Dilansir dari Suara, Ibrahim menjelaskan bahwa saat ini minim sentimen positif yang mampu memperkuat posisi rupiah. Dalam skenario jangka pendek, ia melihat rupiah akan lebih dulu melewati level Rp18.000 sebelum merosot lebih jauh.

"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp 18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22 ribu," ujarnya.

Guna meredam laju pelemahan nilai tukar, kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi instrumen krusial. Ibrahim menilai BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang.

Langkah pengetatan moneter tersebut dipandang sebagai solusi untuk menjaga stabilitas mata uang di tengah tekanan eksternal yang masif.

"Ya bisa saja 25 basis poin sampai 50 basis poin, tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," jelasnya.

Namun, keputusan ini diakui Ibrahim membawa dilema besar bagi otoritas moneter. Kenaikan BI Rate berisiko menekan daya beli masyarakat yang pada akhirnya dapat mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," imbuhnya.

Meskipun tekanan terhadap nilai tukar terus membayangi, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih berada dalam kondisi yang cukup terjaga.

"Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus, karena 90 persen ya obligasi yang membeli adalah domestik," sambung Ibrahim.

Artikel terkait

Rekomendasi