Proyeksi pergerakan harga emas dunia menunjukkan potensi kelanjutan tren pelemahan pada perdagangan pekan depan akibat tekanan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi. Analisis pasar menunjukkan ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed masih membayangi logam mulia pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Analisis teknikal pada timeframe harian mengonfirmasi adanya tren bearish yang cukup kuat bagi emas. Dilansir dari Investor Daily, kondisi ini memberikan sinyal bahwa penurunan harga logam mulia masih berpeluang terjadi untuk jangka menengah.
"Selama harga masih bergerak di bawah area Moving Average (MA) 21 dan MA 50, tekanan bearish diperkirakan masih mendominasi pasar," ujar Geraldo Kofit, Analis Dupoin Futures.
Geraldo menjelaskan bahwa secara teknikal harga emas diproyeksikan turun ke level support terdekat pada posisi US$ 4.558 per ons troi. Apabila tekanan jual terus meningkat, penurunan nilai aset ini diperkirakan dapat menembus area US$ 4.481 per ons troi.
"Selama harga masih bergerak di bawah area Moving Average (MA) 21 dan MA 50, tekanan bearish diperkirakan masih mendominasi pasar," kata Geraldo Kofit.
Indikator stochastic saat ini terpantau bergerak turun menuju zona jenuh jual atau oversold. Meski kondisi tersebut sering memicu rebound sementara, Geraldo menilai tekanan jual belum sepenuhnya mereda melihat arah indikator yang masih melemah.
"Di sisi lain, tingginya yield obligasi pemerintah AS juga mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven karena investor lebih memilih instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi," papar Geraldo Kofit.
Sentimen fundamental global turut memberatkan posisi emas karena dolar AS yang menguat membuat harga menjadi lebih mahal bagi investor pengguna mata uang lain. Situasi ini menyebabkan permintaan emas di pasar global cenderung mengalami penurunan.
"Jika The Fed belum memberikan sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat, dolar AS diperkirakan tetap kuat dan berpotensi menjadi tekanan tambahan bagi harga emas," tambah Geraldo Kofit.
Geraldo menyoroti data ekonomi AS, khususnya inflasi dan tenaga kerja, yang tetap solid sehingga memicu ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Selain itu, munculnya sentimen risk-on membuat investor beralih ke instrumen berisiko saat pasar saham stabil.
"Namun, pelaku pasar tetap disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global yang sewaktu-waktu dapat mengubah sentimen pasar," tutup Geraldo Kofit.
Aksi ambil untung atau profit taking setelah reli sebelumnya juga memperbesar tekanan jual jangka pendek. Saat ini, emas gagal mempertahankan momentum bullish di tengah optimisme ekonomi yang meningkat.