Neng Molen, seekor kucing yang awalnya merupakan kucing jalanan tanpa identitas, kini bertransformasi menjadi primadona media sosial dengan ratusan ribu pengikut. Perjalanan kucing ini dimulai sekitar empat tahun lalu saat ia masuk ke kamar seorang warga bernama Anisa Dwi melalui jendela, sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Rabu (22/4/2026).
Anisa Dwi, atau yang akrab disapa Ica, mengenang momen awal pertemuan unik tersebut yang membuatnya memutuskan untuk mengadopsi sang kucing. Ica menyebutkan bahwa kehadiran hewan peliharaan adalah bukti bahwa mereka yang sebenarnya memilih pemiliknya.
"Dia tuh bahkan dateng ke rumah tuh bukan ke rumahnya tapi ke kamar aku naik lewat jendela, itu juga aku yang bikin kaget sih dia langsung milihnya kamar aku," kenang Ica.
Keputusan untuk memelihara kucing tersebut diambil Ica secara spontan karena rasa sayang yang muncul seketika. Hal ini menjadi titik awal perubahan hidup Neng Molen dari kucing liar menjadi peliharaan rumah.
"Dia dateng ke rumah terus kayak dateng terus ya sudah akhirnya aku adopsi aja karena udah terlanjur sayang kayak cinta pada pandangan pertama aja sama dia," tutur Ica.
Nama Neng Molen sendiri memiliki sejarah unik yang berawal dari sapaan sayang Ica sebagai orang Purwakarta. Meskipun awalnya ditemukan dalam kondisi tidak terawat, Ica merasa kucing tersebut memiliki kecantikan tersendiri.
"Neng itu ya aku kan orang Sunda, orang Purwakarta. Jadi sebenarnya kayak cuma karena Neng cantik, cewek Sunda gitu aku liat, walaupun sebenarnya pas aku liat dia tuh jelek banget dulu tapi di mata aku dulu dia cantik," kenang Ica.
Ica kemudian menambahkan nama belakang karena merasa canggung jika hanya menggunakan nama tunggal saat mendaftarkan kucingnya di klinik hewan. Nama Molen dipilih karena pengamatan Ica terhadap postur tubuh kucingnya yang bulat saat duduk.
"Kenapa Molen? Karena bentuknya seperti molen, kayak kue bolen-bolen gitu. Dia kan kalau lagi duduk tuh kayak bolen coklat gitu lucu, cuma karena gitu aja sih," kata Ica.
Popularitas Neng Molen di media sosial berkembang pesat sejak akhir 2023 berkat karakter alfa dan tingkah lakunya yang dinilai sangat cocok untuk dijadikan konten. Sejak tahun 2025, kucing ini bahkan mulai mengisi berbagai acara talkshow dan pertemuan penggemar secara mandiri.
"Neng itu yang paling banyak tingkahnya di rumah dan emang paling alfa juga di rumah walaupun dia betina tapi dia tuh paling alfa gitu aktif. Emang lebih banyak tingkah aja sih jadi kayak kontenable," jelas Ica.
Selain tingkahnya, Neng Molen dikenal karena sering mengenakan pakaian modis. Ica menegaskan bahwa ia tidak pernah memaksa kucingnya untuk berpakaian karena Neng Molen justru terlihat sangat menikmati momen tersebut.
"Kayaknya kalau itu mulai ada undangan sebenarnya dari 2024 akhir cuman kalau mulai udah ada kasarnya mengisi talkshow yang solo kayak di mall 2025 dari talkshow, meet and greet gitu," ujar Ica.
Ica menceritakan bahwa kucingnya sering terlihat memperhatikan bayangannya sendiri di cermin saat sedang mengenakan pakaian. Hal ini menunjukkan tingkat kenyamanan sang kucing sebagai figur publik di dunia hewan.
"Aku juga enggak pernah memaksakan Neng saat dibaju. Karena kalau misalnya ngelihat Neng di event-event atau di video, Neng tuh sangat-sangat enjoy. Kayak dia emang suka gitu pakai baju, dan bahkan aku tuh suka ngegep dia kalau dia udah pakai baju tuh dia suka ngaca," cerita Ica.
Dalam mengelola konten, Ica tetap memprioritaskan suasana hati kucingnya dan tidak pernah memaksakan pembuatan video. Ia lebih banyak merekam momen natural yang kemudian diunggah ke akun media sosial.
"Neng lagi bertingkah apa ya sudah natural. Aku record, aku upload, gitu jadi mungkin dari situ orang merasa ikut membaur," kata Ica.
Standar kenyamanan ini juga diterapkan Ica saat berurusan dengan kerja sama produk. Ia selalu memberikan catatan kepada pihak pengiklan agar alur cerita konten disesuaikan dengan kondisi Neng Molen di lapangan.
"Aku pasti nunggu mood Neng tuh bagus jadi enggak ada cara khusus. Jadi kayak script aja aku tuh pasti menyesuaikan misalnya kayak brand minta storyline nih, aku pasti dikasih note kondisi Neng disesuaikan. Jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain, kita sesuaikan aja," ujar Ica.
Keberhasilan Neng Molen di dunia digital kini mampu membiayai fasilitas hidupnya sendiri dan 12 kucing lainnya di rumah Ica. Rezeki yang didapatkan juga sering disisihkan Ica untuk membantu kucing-kucing lainnya.
"Sangat cukup untuk penghidupan Neng, terus kayak 12 kucing lainnya dan aku juga alhamdulillah aku selalu sisihkan rezeki Neng juga buat kucing-kucing lainnya," ujar Ica.
Dampak popularitas ini bahkan merambah ke kehidupan pribadi Ica yang sering dikenali publik saat berada di tempat umum meskipun sedang tidak membawa kucingnya.
"Dampaknya luas juga ya, maksudnya kayak dari pet ini kayak gue pansos ke kucing. Aku saat tidak membawa Neng aja udah ada yang kenal aku sih, itu yang anehnya. Tapi kalau misalnya di pet expo atau di pet event, udah pasti aku setiap jalan dikit diberhentiin," kata Ica.
Saras (27), seorang penikmat konten hewan, menyatakan bahwa ia mencari hiburan dari tingkah alami hewan di media sosial. Baginya, momen spontan jauh lebih menarik daripada konten yang direncanakan secara berlebihan.
ÔÇ£Saya paling suka yang natural dan lucu, misalnya kucing yang tingkahnya aneh, atau anjing yang interaksi sama pemiliknya. Yang kayak keseharian gitu justru lebih menarik daripada yang terlalu di-setting,ÔÇØ ujarnya.
Saras menambahkan bahwa menonton video hewan menjadi cara bagi dirinya untuk melepas penat dari rutinitas harian yang melelahkan.
ÔÇ£Misalnya lagi capek kerja atau lagi bad mood, nonton konten hewan bisa bikin lebih santai,ÔÇØ kata Saras.
Bagi Shafa (25), konten hewan di media sosial berfungsi sebagai pengganti karena dirinya tidak bisa memelihara hewan secara langsung akibat kondisi kesehatan.
ÔÇ£Iya dari dulu sebenarnya pengin banget punya kucing di rumah, tapi saya punya alergi bulu yang cukup parah,ÔÇØ tutur Shafa.
Shafa merasa tayangan tersebut menjadi pelampiasan bagi keinginannya untuk berinteraksi dengan hewan peliharaan.
ÔÇ£Karena itu jadi semacam pengganti sih buat saya. Karena nggak bisa punya langsung, jadi nonton konten hewan itu kayak pelampiasan rasa pengin punya peliharaan,ÔÇØ ucap Shafa.
Shafa juga merasakan dampak positif terhadap suasana hatinya setelah menyaksikan video-video hewan yang menggemaskan.
ÔÇ£Kadang kalau lagi capek, lihat video hewan itu bisa bikin senyum sendiri,ÔÇØ ujar Shafa.
Rissalwan Habdy Lubis, pengamat sosial dari Universitas Indonesia, berpendapat bahwa keunikan adalah faktor kunci bagi hewan untuk bisa meraih status selebritas di dunia maya. Konten yang biasa saja dinilai tidak akan cukup kuat untuk menarik perhatian audiens secara luas.
"Karena sekali lagi tadi harus ada keunikan dari binatang itu kalau binatang itu cuma binatang reguler ya tidak bisa punya satu hal yang menarik bagi orang tentunya tidak akan bisa menjadi selebriti," jelas Rissalwan.
Rissalwan menambahkan bahwa selain keunikan fisik atau kemampuan khusus, interaksi antara pemilik dan hewan juga menjadi daya tarik utama bagi para penonton.
"Misalnya kucing ya dia akan mencari konten-konen yang menarik dengan kucing dan tadi kucing itu punya keunikan ya. Misalnya bulunya bagus, peranakan dari mana, punya kemampilan khusus. Burung juga gitu ya," kata Rissalwan.