PT PLN (Persero) resmi menyepakati kerja sama strategis melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) serta Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution. Langkah ini diambil untuk mendorong elektrifikasi pada operasional sektor pertambangan.
Dilansir dari Detik Finance, kolaborasi ini melibatkan sejumlah produsen batu bara besar guna beralih ke penggunaan energi listrik. Perusahaan yang terlibat mencakup PT Trubaindo Coal Mining, PT Sembada Makmur Sejahtera, PT Marga Bara Jaya, PT Maruwai Coal, PT Makmur Sejahtera Wisesa, dan PT Berau Coal.
Kesepakatan PJBTL mencatat distribusi daya yang signifikan bagi masing-masing perusahaan. PT Makmur Sejahtera Wisesa menjadi penerima daya terbesar dengan nilai 106 MVA, disusul oleh PT Maruwai Coal sebesar 71 MVA.
| Nama Perusahaan | Kapasitas Daya (MVA) |
|---|---|
| PT Makmur Sejahtera Wisesa | 106 MVA |
| PT Maruwai Coal | 71 MVA |
| PT Sembada Makmur Sejahtera | 55 MVA |
| PT Marga Bara Jaya | 35 MVA |
| PT Trubaindo Coal Mining | 30 MVA |
| PT Berau Coal | 29 MVA |
Selain penyediaan daya, skema Integrated Business Solution juga dijalankan oleh anak usaha PLN. Proyek ini mencakup pembangunan instalasi gardu pelanggan hingga pekerjaan engineering design untuk infrastruktur tegangan tinggi.
Dampak Pengurangan Emisi dan Efisiensi Biaya
Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian ESDM, Ari Hendrawanto, menjelaskan bahwa elektrifikasi alat berat merupakan strategi kunci dalam menekan emisi di wilayah tambang. Hal ini krusial untuk mengejar target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.
"Strategi pengurangan emisi dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pengurangan produksi, substitusi energi ke sumber lain seperti biomassa, serta peningkatan efisiensi dan elektrifikasi. Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material," ujar Ari.
Penggunaan energi listrik juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perusahaan. Setiap unit alat berat yang beralih dari bahan bakar diesel ke listrik berpotensi menghemat biaya operasional hingga Rp 2 miliar per tahun.
"Jika diterapkan secara luas, efisiensi yang dihasilkan akan sangat besar," kata Ari menambahkan.
Visi Pertambangan Hijau Masa Depan
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyatakan bahwa transisi energi merupakan langkah nyata dalam memperkuat kemandirian energi nasional. PLN berkomitmen menyediakan layanan inovatif yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan industri pertambangan.
"Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan," tutur Adi.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ini. Ketua Umum APBI, Priyadi, menilai hubungan antara produsen batu bara dan PLN menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.
"Nah ini adalah kesempatan yang baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme yang paling menguntungkan," kata Priyadi.
Transformasi menuju pertambangan hijau ini juga menjadi jawaban atas tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga bahan bakar. Salah satu contoh nyata dilakukan oleh PT Borneo Indobara yang membangun infrastruktur pengisian daya untuk 700 unit truk listrik.
"Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan iklim dan tren kenaikan harga bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan secara masif bersama PLN guna mengoperasikan berbagai alat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik," jelas Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara, Adi Supriyatna.