Platform properti Pinhome mengungkapkan adanya fenomena baru berupa perpanjangan tenor Kredit Pemilikan Rumah atau tenor stretching oleh perbankan sepanjang tahun 2025. Pergeseran tren ini terjadi di tengah penurunan rata-rata plafon kredit di bawah Rp600 juta dan lonjakan minat pada rumah sekunder.
Dilansir dari Investortrust, kebijakan perbankan dalam menawarkan masa pinjam yang lebih panjang tersebut direspons secara positif oleh masyarakat. Langkah ini dinilai efektif membantu mendongkrak tingkat persetujuan kredit sekaligus meringankan beban cicilan bulanan para nasabah.
"Satu fenomena yang kami amati dari data internal Pinhome adalah adanya fenomena tenor stretching, yaitu kebijakan untuk baik dari sisi perbankan juga menawarkan program dengan tenor yang lebih panjang atau masa pinjam yang lebih panjang," ujar CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata dalam Media Talk Show di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Pertumbuhan minat konsumen dilaporkan terjadi secara signifikan pada dua produk KPR utama. Berdasarkan data internal platform tersebut, kenaikan mencapai ratusan persen untuk skema bunga tetap maupun kombinasi.
"Di kedua segmen produk tersebut tetap terjadi peningkatan, berarti 200% untuk tenor fix, serta sekitar 100% jadi double di fix and float," kata Dara.
Di sisi lain, nilai plafon KPR rata-rata mengalami penyusutan dari yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp720 juta kini menjadi di bawah Rp600 juta. Penurunan nilai pinjaman ini diidentifikasi dipicu oleh dua faktor utama dari sisi perilaku konsumen.
"Pertama adalah konsumen mungkin membayar DP lebih tinggi. Tapi kemungkinan yang lebih adalah memang mereka membeli properti yang lebih murah dan sehingga tercermin di plafonnya juga yang sedikit menurun," ucap Dara.
Dara menambahkan bahwa hunian dengan kisaran harga di bawah Rp1 miliar masih mendominasi pasar. Selain itu, rumah sekunder mengalami peningkatan minat yang tajam pada semester II 2025 karena pemilik properti individu lebih fleksibel dalam menurunkan harga jual.
"Diiringi dengan kesediaan untuk menurunkan harga dari sisi pemilik properti, ditandai dengan banyaknya properti berlabel dijual cepat, butuh uang, maka KPR di rumah second juga semakin diminati," ujar Dara.
Kondisi pasar pada kuartal IV 2025 menunjukkan penguatan pada segmen rumah sekunder setelah sebelumnya segmen primer mendominasi pada kuartal III 2025 melalui promosi agresif pengembang. Tren pengalihan KPR atau KPR takeover juga meningkat di semester II 2025 sebagai strategi konsumen menyiasati biaya transaksi.
"Ketika ada perubahan program atau perpindahan dari satu bank ke bank yang lain, pasti ada biaya transaksi yang harus dibayarkan, karena mereka membutuhkan likuiditas, mereka upayakan biaya ini di cover dari KPR-nya itu sendiri," kata Dara.