Minum Air Setelah Lari Perlu Menyesuaikan Kondisi Tubuh

Minum Air Setelah Lari Perlu Menyesuaikan Kondisi Tubuh
Foto: Ilustrasi Minum Air Setelah Lari Perlu Menyesuaikan Kondisi Tubuh.

Tren lari kini semakin diminati masyarakat dan kerap dipamerkan sebagai pencapaian di media sosial. Banyak individu mulai menekuni aktivitas ini karena terpengaruh lingkungan sosial atau fenomena FOMO yang berdampak positif bagi kesehatan.

Namun, muncul pertanyaan mengenai jenis air mineral yang paling tepat untuk dikonsumsi usai berolahraga. Pilihan antara air dingin, air suhu ruang, atau air hangat ternyata bergantung pada kebutuhan spesifik tubuh saat pemulihan.

Dikutip dari Detik Health, tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat dan mengalami peningkatan suhu inti saat berlari. Kondisi tersebut memicu jantung bekerja lebih keras demi menjaga stabilitas aliran darah sekaligus membuang panas berlebih.

Dalam jurnal Nutrients tahun 2019 bertajuk Practical Hydration Solutions for Sport, dijelaskan bahwa rehidrasi bukan sekadar menghilangkan haus. Pemilihan suhu air dapat memengaruhi efektivitas tubuh kembali ke kondisi normal.

Air dingin sering menjadi primadona bagi pelari, terutama saat cuaca terik. Sensasi segarnya membantu menurunkan suhu panas yang dirasakan dari dalam tubuh secara langsung setelah aktivitas fisik yang berat.

Penelitian dalam Frontiers in Sports and Active Living tahun 2025 menyebutkan air bersuhu sekitar 5 derajat celsius efektif menahan lonjakan suhu inti. Efek pendinginan ini sangat terasa jika lari dilakukan dalam durasi lama di bawah sinar matahari.

Meski demikian, kebutuhan akan air dingin tidak selalu sama pada setiap orang. Bagi sebagian individu, air yang terlalu dingin justru dapat memberikan sensasi kurang nyaman pada bagian tenggorokan atau sistem pencernaan.

Air Biasa dan Air Hangat untuk Kenyamanan Pencernaan

Air suhu ruang atau sejuk menjadi opsi yang paling netral dan aman bagi kebanyakan orang. American College of Sports Medicine merekomendasikan air dengan suhu 15 hingga 21 derajat celsius untuk dikonsumsi setelah berolahraga.

Suhu sejuk tersebut membuat air lebih mudah diminum berulang kali dalam volume yang cukup tanpa membebani tubuh. Pilihan ini sangat ideal bagi mereka yang melakukan jogging dengan intensitas ringan hingga sedang secara rutin.

Di sisi lain, air hangat memberikan manfaat tersendiri bagi pemilik lambung sensitif. Berdasarkan studi dalam Journal of Physiological Anthropology tahun 2022, air hangat lebih nyaman dan membantu kelancaran pengosongan lambung.

Penggunaan air hangat lebih disarankan ketika suhu tubuh tidak terlalu tinggi atau saat fokus utama adalah menenangkan sistem pencernaan. Air dingin terkadang memberikan efek kejut yang tidak nyaman bagi perut yang masih aktif bekerja pasca-lari.

Prioritas utama setelah berolahraga adalah memastikan kecukupan cairan untuk mengganti apa yang hilang melalui keringat. Hidrasi yang tepat membantu detak jantung kembali stabil dan mempercepat pemulihan rasa lelah pada otot.

Artikel terkait

Rekomendasi