Kendaraan PHEV Menjadi Solusi Transisi Elektrifikasi Otomotif di Indonesia

Kendaraan PHEV Menjadi Solusi Transisi Elektrifikasi Otomotif di Indonesia
Foto: Ilustrasi Kendaraan PHEV Menjadi Solusi Transisi Elektrifikasi Otomotif di Indonesia.

Teknologi kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) kini mulai diposisikan sebagai jembatan utama menuju era elektrifikasi otomotif di Indonesia guna mengatasi kekhawatiran konsumen terhadap keterbatasan infrastruktur. Pernyataan tersebut disampaikan di Beijing, China, pada akhir pekan lalu sebagaimana dilansir dari Otomotif.

CEO Andry Ciu menjelaskan bahwa karakter PHEV di pasar global, khususnya China, memiliki perbedaan signifikan dengan kendaraan hibrida standar, terutama pada aspek kapasitas baterai yang digunakan. Kehadiran teknologi ini memang dirancang untuk mempermudah transisi dari mesin konvensional.

"Kalau di China, hybrid dan PHEV itu berbeda, karena besaran baterai juga beda," kata Andry di Beijing, China, akhir pekan lalu.

Andry menekankan bahwa peran utama PHEV adalah memberikan pengalaman berkendara listrik bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan fasilitas pendukung yang belum memadai.

"Sebenarnya, PHEV lahir untuk mempermudah transisi menuju elektrifikasi, terutama di daerah yang infrastrukturnya masih terbatas. Jadi pengguna tetap bisa merasakan kendaraan listrik," ujarnya.

Faktor sosiologis konsumen di Indonesia juga menjadi poin krusial dalam adopsi teknologi ini, mengingat pembeli mobil di tanah air sangat mempertimbangkan aspek fleksibilitas penggunaan untuk berbagai kebutuhan.

"Di Indonesia, konsumen cenderung mempertimbangkan banyak hal," katanya.

Fenomena pemilihan kendaraan berkapasitas tujuh penumpang (7-seater) meskipun hanya digunakan sendiri dalam keseharian menjadi bukti bahwa aspek fungsionalitas jangka panjang sangat menentukan keputusan pembelian.

"Misalnya, kenapa banyak yang memilih mobil 7-seater, padahal penggunaan harian sering kali hanya untuk satu atau dua orang. Alasannya sederhana, untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan, misalnya saat bepergian bersama keluarga atau mudik," kata dia.

Pola pikir tersebut juga berimbas pada adopsi kendaraan listrik murni, di mana masyarakat masih merasa waswas saat harus menempuh perjalanan jarak jauh melintasi pulau-pulau besar.

"Pola pikir seperti itu juga berlaku pada kendaraan listrik," kata Andry.

Andry menyoroti bahwa sebaran infrastruktur pengisian daya yang belum merata di luar Pulau Jawa, seperti di Sumatera hingga Sulawesi, menjadi hambatan psikologis bagi calon pengguna.

"Ada kekhawatiran saat digunakan ke luar kota, terutama karena infrastruktur belum merata. Apalagi pengguna di Indonesia tidak hanya berada di Pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi," ujarnya.

Guna mengakselerasi proses elektrifikasi nasional, PHEV dinilai sebagai solusi paling relevan karena menawarkan keseimbangan antara efisiensi energi harian dan ketahanan perjalanan jauh.

"Karena itu, untuk mempercepat elektrifikasi dibutuhkan jembatan, salah satunya melalui PHEV," ujarnya.

Sistem ini memungkinkan penggunaan tenaga listrik murni untuk jarak tempuh sekitar 110 kilometer saat pemakaian dalam kota, sementara mesin bensin tetap tersedia sebagai penopang saat cadangan daya listrik habis.

"Saat digunakan ke luar kota, mesin konvensionalnya tetap bisa diandalkan. Sementara untuk penggunaan harian, baterainya saja sebenarnya sudah cukup, dengan jarak tempuh sekitar 110 km. Tinggal diisi ulang setiap hari," kata Andry.

Secara teknis, mekanisme PHEV menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik dan baterai yang dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal atau stasiun pengisian. Mesin bensin akan aktif secara otomatis untuk menggerakkan roda atau mengisi daya baterai saat kapasitas energi mulai menipis.

Artikel terkait

Rekomendasi