Laju pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi mengalami perlambatan secara tahunan pada kuartal I/2026 meskipun masih berada di jalur positif. Fenomena ini dilaporkan terjadi di tengah dinamika pasar global dan sikap perusahaan yang lebih selektif dalam melakukan penutupan risiko asuransi.
Berdasarkan data yang dilansir dari Finansial, akumulasi premi asuransi umum dan reasuransi mencapai nilai Rp41,24 triliun pada kuartal I/2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 1,77 persen (year on year/YoY), namun persentase ini jauh lebih rendah dibandingkan capaian bulan-bulan sebelumnya pada awal tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono memaparkan data kinerja tersebut dalam konferensi pers daring RDK OJK April 2026 pada Selasa (5/5/2026). Ia mengonfirmasi total perolehan nilai premi industri di periode tersebut.
ÔÇ£Premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77% YoY dengan nilai sebesar Rp41,24 triliun,ÔÇØ ucap Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Ogi menjelaskan bahwa industri saat ini masih memiliki tingkat ketahanan modal yang sangat kuat. Hal ini terlihat dari Risk Based Capital (RBC) industri asuransi umum dan reasuransi yang secara agregat tercatat sebesar 316,32 persen, berada jauh di atas batas minimal regulasi 120 persen.
ÔÇ£Industri asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital [RBC] sebesar 316,32%,ÔÇØ ucap Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Meskipun terjadi perlambatan laju pertumbuhan premi dibandingkan Januari yang sempat menyentuh 17,92 persen, OJK tetap memandang prospek ke depan dalam koridor yang sehat. Keseimbangan antara berbagai segmen pasar menjadi faktor pendukung optimisme tersebut.
ÔÇ£Didukung oleh keseimbangan antara segmen individu dan kumpulan, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah dinamika pasar dan tantangan global,ÔÇØ sebut Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menilai kondisi ini bukanlah pelemahan fundamental melainkan normalisasi. Faktor daya beli dan pengetatan proses underwriting menjadi pemicu utama fluktuasi angka pertumbuhan tersebut.
ÔÇ£Aktivitas sektor properti dan korporasi, serta sikap perusahaan asuransi yang semakin selektif dalam underwriting,ÔÇØ ungkap Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.
Budi menekankan bahwa produksi premi dalam sektor asuransi umum tidak selalu bergerak secara linier setiap bulannya. Variasi pencatatan sangat bergantung pada siklus pembaruan polis besar dari sektor korporasi maupun proyek infrastruktur.
ÔÇ£Dalam industri asuransi umum, produksi premi tidak selalu bergerak merata setiap bulan, terutama untuk polis korporasi, properti, kendaraan bermotor, kredit, proyek, dan lini komersial lainnya,ÔÇØ sebut Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.
Ia juga menyoroti bahwa arah pertumbuhan di semester I/2026 akan sangat bergantung pada pergerakan ekonomi makro. Meskipun demikian, AAUI tetap memegang proyeksi positif berdasarkan fondasi kinerja kuat yang sudah terbentuk sejak tahun sebelumnya.
ÔÇ£Namun, arah pertumbuhan pada semester I/2026 akan sangat dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, pembiayaan, sektor properti, penjualan kendaraan, proyek infrastruktur, perdagangan, serta permintaan proteksi dari sektor korporasi dan ritel,ÔÇØ tegas Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.
Dari sisi pelaku usaha, Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengungkapkan strategi perusahaan kini lebih fokus pada pertumbuhan yang menguntungkan. Optimalisasi bisnis inti dan perluasan saluran digital menjadi langkah utama guna mengerek pendapatan premi.
ÔÇ£Kemudian, memperkuat kolaborasi dengan perbankan, BUMN, dan pelaku ekspor, serta memperbesar penetrasi pada sektor-sektor yang masih bertumbuh seperti perdagangan, logistik, infrastruktur, dan supply chain ecosystem,ÔÇØ kata Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asuransi Asei.
Dody menambahkan bahwa dalam kondisi pasar yang sensitif terhadap risiko, kualitas dari portofolio premi jauh lebih berharga bagi keberlanjutan perusahaan. Fokus industri bergeser dari sekadar mengejar volume menuju pertumbuhan yang telah disesuaikan dengan profil risiko.
ÔÇ£Karena dalam kondisi industri yang semakin risk-sensitive, kualitas premi akan menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar pertumbuhan nominal premi,ÔÇØ ujar Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asuransi Asei.