PT Pertamina Patra Niaga menyediakan stok avtur sebanyak lebih dari 80.000 kiloliter (KL) guna mendukung operasional penerbangan haji tahun 2026 di 14 bandara embarkasi Indonesia. Penyiapan pasokan energi ini dilakukan untuk melayani dua fase penerbangan yang dijadwalkan berlangsung pada 22 April hingga 30 Juni 2026.
Volume avtur yang dialokasikan tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,2 persen dibandingkan periode haji tahun sebelumnya. Dilansir dari Detik Finance, jumlah tersebut juga tercatat 5,6 persen lebih tinggi di atas rata-rata penyaluran harian normal untuk kebutuhan avtur nasional.
Sebanyak 14 bandara embarkasi telah disiapkan, termasuk Yogyakarta International Airport yang menjadi titik embarkasi baru pada tahun ini. Lokasi lainnya mencakup Sultan Iskandar Muda, Minangkabau, Hang Nadim, Kualanamu, Sultan Mahmud Badaruddin II, Soekarno-Hatta, Kertajati, Adi Soemarmo, Juanda, Lombok International Airport, Sepinggan, Syamsudin Noor, dan Hasanuddin.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa seluruh rantai pasok mulai dari kilang hingga ke pesawat berada dalam kondisi terjaga. Pengawasan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan layanan tepat waktu bagi seluruh maskapai yang terlibat.
"Pertamina Patra Niaga memastikan keandalan suplai avtur di seluruh titik layanan penerbangan haji melalui sistem rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari Kilang, Fuel Terminal, Aviation Fuel Terminal hingga layanan into-plane. Hal ini kami lakukan untuk menjamin kelancaran operasional penerbangan haji secara aman, tepat waktu, dan sesuai standar layanan," ujar Roberth dalam keterangan resmi pada Kamis, 23 April 2026.
Perusahaan menjaga ketersediaan stok di bandara utama maupun bandara penyangga sebagai langkah antisipasi lonjakan permintaan selama masa puncak haji. Selain kesiapan fisik stok, pemantauan transaksi dan proses pengisian bahan bakar dilakukan secara digital.
Sistem Digital Ground Operation (DGO) diterapkan untuk memantau distribusi avtur ke maskapai seperti Garuda Indonesia dan Saudia secara real-time. Teknologi ini diharapkan mampu memperkuat akurasi pengiriman bahan bakar di setiap titik embarkasi selama dua fase operasional berlangsung.