PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan rekor produksi listrik tertinggi sepanjang sejarah sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh) sepanjang tahun 2025. Dilansir dari Money pada Jumat (24/4/2026), pencapaian ini diikuti pertumbuhan laba bersih perusahaan yang mencapai 137,67 juta dollar AS.
Kenaikan produksi sebesar 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya tersebut didukung oleh pendapatan sebesar 432,73 juta dollar AS. Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 menjadi faktor utama yang meningkatkan kapasitas terpasang dan mendorong performa operasional perusahaan.
Elrika Hamdi, selaku pengamat energi dan Member of the Supervisory Board Rumah Energi, memberikan tanggapan positif terhadap capaian tersebut. Ia menilai hasil kinerja ini mempertegas peran strategis energi panas bumi dalam peta jalan transisi energi nasional.
"Kalau melihat rencana transisi energi Indonesia ke depan, bisnis PGEO memiliki potensi tinggi untuk berkembang karena masih ada sejumlah lapangan panas bumi yang sedang dieksplorasi yang kemudian dapat dieksploitasi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor," ujar Elrika.
Kelebihan panas bumi dibandingkan sumber energi terbarukan lain terletak pada stabilitasnya dengan faktor kapasitas mencapai 90 persen. Namun, mantan Deputy Head Just Energy Transition Partnership (JETP) ini mengingatkan adanya hambatan pada fase awal pengembangan proyek.
ÔÇ£Kalau sudah beroperasi, pembangkit listrik panas bumi umumnya kinerjanya baik dan menguntungkan. Namun, tantangan utama justru berada pada proses awal identifikasi hingga ke eksplorasi, yang memerlukan waktu cukup panjang dan penuh risiko," jelas Elrika.
Pengelolaan proyek secara konsisten dianggap menjadi fondasi dalam membangun ekosistem energi baru terbarukan (EBT). Hal tersebut diperlukan untuk memberikan kepastian pasar pada sektor yang memiliki profil risiko tinggi dan membutuhkan investasi jangka panjang.
"Kinerja yang stabil seperti ini menjadi sinyal positif bagi pasar dan penting untuk mendorong investasi baru, mengingat industri geothermal membutuhkan komitmen jangka panjang serta kepastian kebijakan," ujar Elrika.
Pemerintah sendiri melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN menargetkan porsi kapasitas pembangkit EBT mencapai 76 persen pada periode 2025-2034. Dari target tersebut, sektor panas bumi diharapkan mampu menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Langkah ini selaras dengan Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2022 yang membidik penurunan emisi Indonesia sebesar 31,89 persen pada 2030. Pemanfaatan panas bumi menjadi katalis utama dalam menekan emisi karbon sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global.