Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memproyeksikan perputaran uang dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencapai Rp18,2 triliun di Makkah, Arab Saudi, pada Kamis (7/5/2026). Nilai fantastis tersebut berpotensi menciptakan efek ganda bagi ekonomi nasional melalui keterlibatan sektor UMKM.
Pemerintah berupaya memastikan belanja besar dalam operasional haji tahun ini memberikan dampak nyata di luar layanan ibadah. Fokus utama diarahkan pada penguatan rantai pasok kebutuhan jemaah yang melibatkan produk-produk asli Indonesia, mulai dari kebutuhan konsumsi hingga sektor logistik.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, menjelaskan bahwa besarnya biaya pelaksanaan haji ini harus dioptimalkan untuk kemaslahatan ekonomi masyarakat luas, sebagaimana dilansir dari Ekonomi.
"Kira-kira dari sekitar Rp18,2 triliun pelaksanaan ibadah haji ini biayanya, ini bisa mendatangkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar," ujar Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj.
Langkah nyata untuk mengalirkan modal tersebut ke tanah air dilakukan melalui penguatan ekosistem digital. Salah satunya adalah penyediaan platform khusus oleh-oleh haji untuk mempermudah transaksi sekaligus melindungi jemaah dari potensi penipuan saat berbelanja produk UMKM.
"Harapannya dari pelaksanaan ibadah haji ini ada manfaat ekonomi yang juga dirasakan oleh masyarakat UMKM di Indonesia," ujar Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj.
Keberadaan platform digital tersebut menjadi jembatan bagi produk-produk nasional untuk menembus pasar haji dan umrah secara lebih sistematis. Saat ini, pemerintah terus memantau indikator awal seperti peningkatan ekspor bumbu dan partisipasi pengusaha Indonesia di sekitar hotel jemaah.
"Alhamdulillah di Indonesia kita juga sudah punya platform oleh-oleh haji," ujar Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj.
Meskipun dampak total masih dalam tahap evaluasi, Kemenhaj berkomitmen untuk melakukan kuantifikasi data secara mendalam guna melihat kontribusi nyata sektor ini terhadap pertumbuhan ekspor nasional tahun ini.
"Ini masih belum final kita peroleh angkanya, tetapi nanti akan dikuantifikasi," ujar Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj.
Penguatan ekosistem ini juga menjadi bagian integral dari visi Tri Sukses Haji. Kemenhaj menekankan bahwa rantai logistik yang kuat akan mendukung layanan haji yang lebih ramah bagi jemaah lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas melalui penyediaan fasilitas pendukung yang memadai.