Pasar perhiasan emas global pada kuartal I 2026 mengalami fenomena unik di mana volume pembelian menurun drastis, namun nilai transaksi justru melonjak tajam. Kondisi ini dipicu oleh harga emas dunia yang terus meroket hingga mencapai level tertinggi dalam sejarah.
Dikutip dari Money, laporan Gold Demand Trends Q1 2026 dari World Gold Council (WGC) menunjukkan total permintaan fisik perhiasan emas dunia hanya berada di angka 300,4 ton. Jumlah ini merosot 23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian volume tersebut tercatat sebagai salah satu yang terendah sejak kuartal II 2020. Kendati demikian, nilai belanja masyarakat dunia untuk perhiasan emas justru menembus angka 47 miliar dollar AS atau setara Rp 814,8 triliun (kurs Rp 17.337 per dollar AS), naik 31 persen yoy.
"Pengeluaran untuk perhiasan emas melonjak bahkan ketika harga emas yang mencapai rekor tertinggi mengakibatkan penurunan pembelian emas murni," tulis WGC dalam laporannya yang dirilis pada Senin (4/5/2026).
Kenaikan harga emas yang sangat signifikan menjadi faktor utama yang membatasi daya beli masyarakat di berbagai belahan dunia. Konsumen kini mulai mengubah strategi berbelanja mereka guna menyiasati harga yang mahal.
Saat ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memilih perhiasan dengan bobot yang lebih ringan atau desain yang lebih sederhana. Selain itu, banyak konsumen yang beralih ke perhiasan dengan kadar emas yang lebih rendah agar tetap terjangkau secara finansial.
Fenomena lain yang terlihat adalah pergeseran minat dari perhiasan ke produk investasi murni. Sebagian besar konsumen kini lebih melirik emas batangan dan koin yang memiliki premi atau biaya tambahan lebih rendah dibandingkan emas dalam bentuk perhiasan.
Kondisi Pasar China, India, dan Asia Tenggara
Dua pasar emas terbesar dunia, yakni China dan India, tidak luput dari tren penurunan volume ini. Permintaan perhiasan di China anjlok 32 persen menjadi 85 ton, sementara di India turun 19 persen ke angka 66 ton.
Laporan WGC menyebutkan bahwa konsumen kelas menengah di India sangat sensitif terhadap perubahan harga. Sebaliknya, kelompok konsumen berpenghasilan tinggi tetap melanjutkan pembelian barang-barang mewah tanpa terlalu memedulikan fluktuasi nilai emas.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih memegang posisi sebagai pasar terbesar dari sisi volume meskipun mengalami penurunan permintaan sebesar 20 persen secara tahunan.
| Negara | Volume Permintaan (Ton) |
|---|---|
| Indonesia | 3,3 ton |
| Thailand | 2,3 ton |
| Vietnam | 2,0 ton |
| Malaysia | 1,5 ton |
| Singapura | 1,5 ton |
Data di atas memperlihatkan bahwa meskipun seluruh kawasan ASEAN berada dalam tekanan harga tinggi, Indonesia tetap mencatatkan volume konsumsi tertinggi. Pola perilaku konsumen di Asia Tenggara cenderung seragam dengan memilih produk investasi yang lebih efisien.
"Harga yang tinggi mendorong peralihan ke perhiasan dengan kadar karat yang lebih rendah dan produk investasi," kata WGC dalam laporannya. Pergeseran ke emas batangan di China dan India juga menjadi bukti bahwa efisiensi biaya kini menjadi prioritas utama para pembeli emas global.