Mengenal Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri Menurut Fikih

Mengenal Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri Menurut Fikih
Foto: Ilustrasi Mengenal Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri Menurut Fikih.

Mengumandangkan takbir menjadi bagian dari sunnah utama dalam merayakan hari kemenangan umat Islam. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara takbir Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri.

Walaupun kalimat takbir yang diucapkan cenderung sama, aturan waktu pelaksanaan dan durasinya mempunyai ketentuan yang tidak sama dalam ilmu fikih. Pemahaman terhadap perbedaan ini krusial agar umat Muslim dapat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dikutip dari Suara, ibadah takbiran pada kedua hari raya tersebut memiliki aturan batasan waktu serta klasifikasi fikih yang berbeda berdasarkan keterangan resmi Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag).

Sebelum membedakan keduanya, penting untuk mengerti dua istilah takbir yang berlaku dalam hukum Islam. Ilmu fikih mengelompokkan ibadah ini menjadi takbir mursal dan takbir muqayyad.

Takbir mursal merupakan pembacaan takbir yang tidak terikat oleh waktu pelaksanaan salat. Aktivitas ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja oleh umat Muslim.

Sementara itu, takbir muqayyad adalah pembacaan takbir yang pelaksanaannya terikat khusus setelah selesai mengerjakan salat. Aturan ini berlaku baik setelah menunaikan salat fardu maupun salat sunah.

3 Perbedaan Utama Takbir Idul Adha dan Idul Fitri

Berdasarkan ulasan literatur Nahdlatul Ulama (NU Online), terdapat poin-poin mendasar yang membedakan kumandang takbir pada kedua hari raya tersebut.

1. Klasifikasi Jenis Takbir yang Berlaku

Hari Raya Idul Fitri hanya menerapkan jenis takbir mursal. Masyarakat bebas mengumandangkannya di masjid, rumah, ataupun saat di perjalanan sepanjang malam menjelang satu Syawal.

Kondisi berbeda berlaku pada Hari Raya Idul Adha yang menerapkan kedua jenis takbir sekaligus, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad. Hal ini membuat umat Muslim dianjurkan untuk terus membaca takbir setiap kali selesai menunaikan salat selama hari raya dan hari tasyrik.

2. Waktu Dimulainya Kumandang Takbir

Perbedaan selanjutnya terletak pada momentum awal pembacaan takbir. Gema takbir Idul Fitri dimulai sejak matahari terbenam pada malam satu Syawal atau bertepatan dengan masuknya waktu magrib di malam takbiran.

Pada Idul Adha, takbir muqayyad sudah mulai disunahkan sejak waktu subuh pada hari Arafah, yaitu tanggal sembilan Dzulhijjah. Atas dasar aturan tersebut, gema takbir sudah sayup-sayup terdengar sebelum hari penyembelihan kurban tiba.

3. Batas Akhir Masa Takbiran

Durasi pelaksanaan takbir Idul Fitri terhitung sangat singkat. Waktu pelaksanaannya resmi berakhir ketika imam salat Id sudah mulai mengangkat tangan untuk takbiratul ihram.

Sebaliknya, durasi takbir Idul Adha berlangsung jauh lebih lama dan panjang. Kumandang takbir pada momen ini baru akan berakhir pada waktu asar di hari tasyrik terakhir, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.

Artikel terkait

Rekomendasi