Sejumlah perbankan di Indonesia melaksanakan stress test guna menguji ketahanan likuiditas dan permodalan terhadap ancaman ketidakpastian global pada April 2026. Langkah strategis ini dilakukan sebagai respons atas imbauan regulator dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Subur Tan menjelaskan bahwa pihaknya telah merampungkan pengujian tersebut, sebagaimana dilansir dari Finansial. Perseroan mencatat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada level 29 persen per kuartal I/2026.
"Hasilnya saya rasa masih cukup membesarkan hati," kata Subur Tan, Direktur PT Bank Central Asia Tbk. dalam konferensi pers kinerja kuartal I/2026 secara daring pada Kamis (23/4/2026).
Kualitas kredit BCA dinilai masih terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) di posisi 1,8 persen. Meskipun terdapat kenaikan pada Loan at Risk (LAR), manajemen optimis dapat mengelola kinerja kredit dengan cadangan yang mencukupi.
"Ada sedikit peningkatan di LAR, tapi saya rasa masih sangat terkontrol, dan cadangannya pun sangat memadai," ujar Subur Tan, Direktur PT Bank Central Asia Tbk.
Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) juga menjalankan prosedur serupa secara rutin. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menegaskan bahwa stress test merupakan kewajiban yang dilaksanakan setiap tiga bulan untuk memantau ketahanan bank dalam beragam skenario ekonomi.
"Itu sebagai salah satu aspek kehati-hatian kita, di mana kita melihat situasi ekonomi ke depan dalam kondisi apapun," tutur Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN pada Sabtu (18/4/2026).
Sebagai langkah mitigasi risiko kredit macet, BTN melakukan pengetatan seleksi debitur terutama pada sektor konstruksi. Prioritas diberikan kepada calon debitur dengan rekam jejak usaha memadai, kapasitas keuangan kuat, permodalan cukup, serta pertimbangan lokasi usaha.