Ketika datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak, apakah memerhatikan siapa saja yang biasanya hadir saat pembagian rapor di sekolahÔÇödan mengapa peran ayah kerap nyaris tak terlihat di sana?
Rabu lalu (17/12), saya mengambil rapor anak saya di sekolah. Di ruang kelas yang dipenuhi kursi plastik dan antrean orang tua, ada satu pemandangan yang langsung terasa menonjol: hampir seluruh yang hadir adalah ibu-ibu.
Nah, dari puluhan orang tua, jumlah ayah yang datang bisa dihitung dengan jari. Hanya tiga orang, termasuk saya sendiri.
Sekilas, pemandangan ini tampak biasa. Bahkan mungkin dianggap wajar. Namun justru di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya. Ketika ketimpangan terus-menerus terjadi dan diterima sebagai hal normal, sering kali ada persoalan yang luput kita sadari.
Apa yang terlihat hari itu bukan sekadar antrean pembagian rapor, melainkan potret kecil dari absennya ayah di ruang pendidikan anak.
Sekolah dan Pembagian Peran yang Terbiasa Timpang
Dalam praktik sehari-hari, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak kerap direduksi pada pembagian peran yang sederhana: ayah bekerja dan mencukupi kebutuhan finansial, ibu mengurus urusan sekolah.
Pola ini diwariskan lintas generasi, diterima tanpa banyak pertanyaan, dan akhirnya membentuk kebiasaan sosial.
Akibatnya, sekolah menjadi ruang yang terasa akrab bagi ibu, tetapi canggung bagi ayah. Ayah hadir saat acara besar atau momen seremonial, namun sering absen dalam peristiwa-peristiwa kecil yang sesungguhnya sangat menentukan perjalanan belajar anak.
Rapor: Catatan Proses, Bukan Sekadar Nilai
Padahal, rapor bukan hanya lembaran angka. Ia adalah catatan proses. Di dalamnya tersimpan jejak konsistensi belajar, perkembangan sikap, catatan karakter, hingga sinyal awal ketika seorang anak mulai mengalami kesulitan atau kehilangan motivasi.
Jika dibaca dengan sungguh-sungguh, rapor dapat menjadi alat deteksi dini. Ia membuka ruang dialog dan refleksi, jauh sebelum masalah belajar berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Sayangnya, rapor sering diperlakukan sebagai hasil akhir. Nilai tinggi dirayakan, nilai rendah disesalkan, lalu disimpan.
Lebih dari itu, proses membaca dan menindaklanjuti rapor sering kali hanya dibebankan kepada ibu. Ayah cukup mengetahui ÔÇ£hasil akhirnyaÔÇØ, tanpa benar-benar memahami proses dan dinamika yang melatarbelakanginya.
Kehadiran Ayah yang Terus Dianggap Pilihan
Di sinilah krisis kehadiran ayah menjadi terasa. Bukan karena ayah tidak peduli, melainkan karena sistem sosial kita secara perlahan membentuk jarak antara ayah dan dunia sekolah.
Kesibukan kerja kerap dijadikan alasan yang diterima tanpa kritik, seolah-olah hadir di sekolah adalah pilihan tambahan, bukan bagian dari tanggung jawab pengasuhan.
Padahal, kehadiran ayah memiliki makna psikologis yang kuat bagi anak. Duduk di ruang kelas, mendengarkan penjelasan guru, dan membaca rapor bersama, menyampaikan pesan sederhana namun penting: usahamu diperhatikan, belajarmu berarti.
Pesan semacam ini tidak selalu bisa digantikan oleh nasihat di rumah atau fasilitas belajar yang mahal.
Ketika Gerakan Sosial Dibutuhkan
Di titik inilah gagasan tentang keterlibatan ayah dalam pendidikan menjadi relevan.
Gerakan seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia hadir bukan sekadar untuk mengajak ayah datang mengambil rapor, melainkan sebagai pengingat bahwa peran ayah jauh melampaui fungsi pencari nafkah.
Ayah adalah figur pendidikan, pembentuk karakter, sekaligus penopang kesehatan mental anak. Kehadirannya di sekolah membuka ruang dialog langsung dengan guru, membantu memahami konteks kesulitan anak, dan memungkinkan penyusunan langkah perbaikan yang lebih tepat.
Pendekatan semacam ini jauh lebih efektif daripada kemarahan yang muncul ketika masalah sudah terlanjur besar.
Beban yang Tak Pernah Dibagi Rata
Sayangnya, realitas di lapangan masih menunjukkan jalan panjang yang harus ditempuh. Pemandangan ayah yang hanya segelintir orang hari itu menjadi pengingat bahwa ketidakhadiran ayah telah lama menjadi kebiasaan kolektif.
Dampaknya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga ibu. Ibu memikul beban ganda: pendamping emosional, penghubung dengan sekolah, pengawas belajar, sekaligus pihak yang kerap disalahkan ketika anak mengalami kesulitan. Ketimpangan ini jelas tidak adil, baik bagi ibu maupun bagi anak.
Ketika Kebijakan dan Praktik Belum Bertemu
Menariknya, apa yang saya saksikan hari itu sebenarnya terjadi di tengah adanya kebijakan yang mendorong keterlibatan ayah.
Pemerintah Provinsi Lampung melalui BKKBN telah meluncurkan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor), yang secara eksplisit mengajak ayah terlibat langsung dalam proses pendidikan anak.
Pesan kebijakan ini jelas: kehadiran ayah bukan simbolik, melainkan strategis. Namun realitas di sekolah menunjukkan bahwa jarak antara kebijakan dan praktik masih cukup lebar.
Ketika ayah yang hadir masih bisa dihitung dengan jari, pertanyaannya bukan lagi soal baik atau tidaknya program, melainkan bagaimana menghidupkannya di tingkat keluarga.
Rapor sebagai Cermin Sosial
Pada akhirnya, rapor bukan hanya mencatat capaian anak, tetapi juga mencerminkan sejauh mana orang dewasa hadir dalam prosesnya.
Keberhasilan gerakan apa pun tidak cukup hanya dengan surat edaran. Ia membutuhkan keberanian ayah untuk keluar dari zona nyaman, serta dukungan sosial yang menormalkan kehadiran ayah di sekolah.
Jika hari ini ayah yang hadir masih sedikit, mungkin pertanyaannya bukan lagi ÔÇ£perlukah ayah terlibat?ÔÇØ, melainkan mengapa kita terlalu lama membiarkan ketidakhadiran itu dianggap wajar.
Sebab kegagalan pendidikan sering kali bukan semata soal kemampuan anak, melainkan tentang orang dewasa yang datang terlambat. Dan rapor, pada akhirnya, mencatat itu dengan jujur.