Peningkatan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia menghadirkan perubahan signifikan pada kebiasaan mengemudi, terutama karena sistem akselerasi yang sangat responsif. Perbedaan karakter ini menuntut pemahaman mendalam mengenai teknologi keselamatan yang tertanam di dalamnya.
Dikutip dari Otomotif, Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menegaskan bahwa kesadaran pengemudi tetap menjadi faktor kunci. Menurutnya, secanggih apa pun fitur keselamatan, hal tersebut tidak akan bekerja efektif tanpa kewaspadaan pengguna saat di jalan raya.
Sony memaparkan fenomena yang dikenal sebagai Sudden Unintended Acceleration (SUA), yaitu kondisi ketika pedal gas terinjak secara penuh tanpa disengaja. Situasi ini menyebabkan kendaraan melaju secara mendadak sehingga sulit dikendalikan oleh pengemudi.
Terdapat tiga faktor krusial yang diidentifikasi sebagai pemicu kejadian mobil melaju tiba-tiba. Faktor pertama bersifat eksternal, seperti penggunaan karpet tambahan yang tidak presisi sehingga menyangkut pada pedal gas.
"Pertama, faktor eksternal seperti karpet tambahan yang tersangkut ke pedal gas. Kedua, kelalaian pengemudi yang salah injak pedal gas akibat panik, biasanya terjadi dalam kondisi tekanan tinggi seperti saat parkir atau bermanuver. Ketiga, malfunction pada sistem komputer EV itu sendiri," kata Sony.
Kendaraan listrik modern yang mengusung teknologi semi otonom level 2 hingga 4 sebenarnya telah dibekali fitur Emergency Auto Brake (EAB). Teknologi ini dirancang untuk meminimalkan risiko tabrakan dengan mendeteksi objek di depan mobil.
"Biasanya mobil-mobil autonomous terutama level 2ÔÇô4 sudah dilengkapi EAB (Emergency Auto Brake), yang otomatis ngerem ketika sensor menangkap ada objek di depannya. Mungkin tabrakan bisa dihindari, tapi tidak sampai fatal," ujar Sony.
Keterbatasan Teknologi dan Pentingnya Orientasi
Meskipun membantu, Sony mengingatkan bahwa sistem otomatis tersebut belum sempurna dan memiliki potensi malfungsi. Ketergantungan yang berlebihan pada fitur keselamatan tanpa kesiapan mengambil alih kemudi bisa menjadi celah bahaya bagi pengendara.
"Fitur-fitur keselamatan ini sebenarnya user friendly untuk pemula atau wanita, tapi sayang belum sempurna banget atau bahkan terjadi malfungtion," tutur Sony.
Karakteristik torsi instan pada mobil listrik memungkinkan tenaga tersalurkan sepenuhnya segera setelah pedal gas disentuh sedikit saja. Respon yang sangat cepat ini berisiko membuat pengemudi kehilangan kendali jika tidak terbiasa dengan sensitivitas pedalnya.
Guna menghindari risiko kecelakaan, para pengguna baru sangat disarankan untuk melakukan orientasi singkat sebelum berkendara secara normal di jalan raya. Langkah ini bertujuan agar pengemudi bisa beradaptasi dengan karakter mesin listrik yang berbeda dari mobil konvensional.
"Para pengemudi mobil listrik, terutama pemula, sebaiknya melakukan orientasi selama lima menit dengan cara berkendara pelan. Hal ini dimaksudkan agar bisa merasakan sensitivitas pedal serta akselerasi mobil listrik," kata Sony.
Selain itu, aspek penting lainnya adalah memahami pengereman regeneratif yang aktif saat pedal gas dilepas. Sony menekankan pentingnya penerapan prinsip defensive driving untuk menekan potensi insiden akibat akselerasi yang tidak direncanakan.
"Terapkan juga gaya berkendara defensif yang bisa meminimalisir risiko Suddenly Unintended Acceleration (SUA)," kata Sony.