Minat masyarakat Indonesia untuk melakukan konversi motor bensin menjadi motor listrik dilaporkan masih sangat rendah dan jauh di bawah target pemerintah. Padahal, stimulus berupa subsidi telah disediakan untuk menarik minat pemilik kendaraan roda dua.
Dilansir dari Detik Oto, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa sepanjang lima tahun terakhir, hanya ada 2.278 unit motor yang berhasil dikonversi. Angka ini dianggap tidak memuaskan meski telah didukung berbagai program insentif.
Tahun 2024 menjadi periode dengan angka konversi tertinggi, yakni mencapai 1.352 unit. Lonjakan ini dipicu oleh kebijakan pemberian subsidi sebesar Rp 10 juta per unit yang menjadi stimulus terakhir sebelum akhir tahun tersebut.
Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, mengungkapkan terdapat beragam tantangan yang menghambat masifnya program ini. Masalah utama meliputi rendahnya kesadaran publik hingga faktor ekonomi konsumen.
Trois menjelaskan bahwa faktor administrasi dan keraguan terhadap performa mesin listrik juga menjadi penghalang serius. Banyak pengguna yang masih mengkhawatirkan daya tahan motor listrik saat menghadapi medan jalan tertentu.
"Kemarin kami diskusi dengan teman-teman Grab, Gojek, inDrive dan semua ojol, salah satu isunya adalah spesifikasi motor listrik itu sendiri. Misalnya, Pak, motornya takut nggak bisa nanjak. Saya bayangkan, motor yang mendapat bantuan kita buat standar," ujar Trois.
Masalah Standardisasi dan Nilai Aset
Selain performa, masalah infrastruktur pengisian daya juga menjadi sorotan. Berbeda dengan mobil listrik yang sudah memiliki standar pengisian daya yang mapan, motor listrik masih menghadapi kendala perbedaan jenis colokan dan sistem baterai.
"Charger mobil listrik sudah no issue, tapi kalau motor listrik masih menjadi issue. Kemudian berkaitan dengan nilai aset EV-nya. Karena once sudah dikonversi, harga motor EV relatif tidak stabil seperti ICE," kata Trois.
Kondisi pasar yang belum stabil untuk harga jual kembali motor listrik hasil konversi membuat pemilik kendaraan lebih memilih mempertahankan mesin konvensional. Hal ini menambah daftar panjang tantangan transisi energi di sektor transportasi Indonesia.