Survei Perbankan Bank Indonesia melaporkan penyaluran kredit baru pada triwulan I/2026 tetap berada di jalur pertumbuhan. Berdasarkan data tersebut, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 38,74 persen.
Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan triwulan IV/2025 yang sempat menyentuh level 88,92 persen. Perlambatan ini dinilai sejalan dengan siklus historis awal tahun yang biasanya lebih rendah dari akhir tahun.
Dikutip dari Finansial, kinerja kredit secara keseluruhan masih menunjukkan ekspansi positif. Kredit konsumsi menjadi motor utama pertumbuhan pada periode ini dengan capaian SBT sebesar 51,97 persen.
Di sisi lain, kredit investasi dan kredit modal kerja masing-masing mencatatkan nilai SBT 37,33 persen dan 36,40 persen. Meski tumbuh lebih lambat, kedua jenis penggunaan kredit ini tetap berkontribusi pada total penyaluran.
Kenaikan pada segmen konsumsi dipicu oleh tingginya minat masyarakat terhadap kredit multiguna dengan SBT 51,90 persen. Sektor kredit tanpa agunan dan kendaraan bermotor juga turut memberikan andil masing-masing 37,23 persen dan 13,38 persen.
Namun, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah atau Apartemen (KPR/KPA) justru terindikasi melambat dengan SBT 42,33 persen. Hal serupa terjadi pada penggunaan kartu kredit yang mencatatkan angka 47,05 persen.
Ditinjau dari sektor ekonomi, bisnis real estate, jasa perusahaan, dan usaha persewaan memimpin dengan SBT sebesar 56,70 persen. Sektor jasa pendidikan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan di level 42,62 persen.
Beberapa sektor lain mengalami normalisasi pertumbuhan. Sektor perantara keuangan berada di angka 52,32 persen, diikuti industri pengolahan 50,31 persen, serta perdagangan besar dan eceran sebesar 19,42 persen.
Pihak perbankan terpantau menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih ketat demi prinsip kehati-hatian. Indeks Lending Standard (ILS) bergerak ke level positif 0,15, berbalik dari posisi negatif 2,59 pada triwulan sebelumnya.
Pengetatan kebijakan perbankan ini menyasar aspek persyaratan administrasi serta jangka waktu kredit. Fokus utama kebijakan yang lebih selektif ini terutama diberlakukan pada segmen kredit investasi.
Proyeksi Penyaluran Kredit Triwulan II/2026
Optimisme perbankan terlihat meningkat untuk periode triwulan II/2026. Responden survei memprediksi SBT penyaluran kredit baru akan melonjak tajam hingga menyentuh angka 96,65 persen.
Prioritas penyaluran kredit pada kuartal kedua mendatang akan difokuskan pada modal kerja, investasi, dan konsumsi. Pada segmen konsumsi, KPR/KPA diprediksi kembali menjadi fokus utama bank.
Pertumbuhan kredit ke depan diperkirakan akan disokong oleh sektor perdagangan besar, perantara keuangan, serta industri pengolahan. Standar penyaluran kredit juga diprediksi akan lebih longgar dengan ILS sebesar negatif 2,88.
Pelonggaran tersebut mencakup aspek agunan, plafon kredit, hingga suku bunga. Langkah ini diambil untuk mendorong penyaluran pada sektor UMKM serta pemenuhan kebutuhan modal kerja dan investasi.
Dari sisi pendanaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II/2026 diproyeksikan meningkat dengan SBT 87,85 persen. Seluruh komponen DPK, mulai dari tabungan, giro, hingga deposito, diperkirakan akan bertumbuh.
Secara tahunan, perbankan memprediksi outstanding kredit 2026 tumbuh 8,06 persen (yoy). Sementara itu, DPK diperkirakan tumbuh 8,47 persen (yoy) di tengah kondisi ekonomi dan moneter yang dinilai tetap kondusif.