Minat masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik berbasis baterai terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kendaraan ramah lingkungan ini kini menjadi pertimbangan utama konsumen karena efisiensi biaya operasional dan teknologi modern yang ditawarkan.
Data dari Gaikindo mengungkapkan lonjakan signifikan pada sektor ini. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) pada kuartal I 2026 menembus angka 33.150 unit, seperti dikutip dari Otomotif.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 95,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Saat itu, total penjualan tercatat sebanyak 16.926 unit di pasar domestik.
Selain faktor hemat energi, kendaraan listrik dinilai memiliki performa unggul saat menghadapi medan sulit seperti tanjakan dan turunan panjang. Hal ini berkaitan erat dengan sistem kontrol dan keselamatan yang tertanam pada unit kendaraan.
Mahaendra Gofar, Pendiri EVSafe sekaligus Dosen di National Battery Research Institute (NBRI), menjelaskan bahwa teknologi pada mobil listrik mendukung stabilitas berkendara yang lebih baik di jalur ekstrem.
"Pengereman regeneratif memberikan kontrol lebih baik di tanjakan dan turunan panjang, sekaligus sambil mengisi ulang daya baterai," ujar Gofar.Sistem ini bekerja dengan cara yang berbeda dari mobil konvensional. Saat pedal gas dilepas, motor listrik pada unit EV akan membantu memperlambat laju kendaraan tanpa sepenuhnya bergantung pada rem mekanis.
Energi yang dihasilkan dari proses deselerasi tersebut kemudian dialirkan kembali untuk mengisi daya baterai. Mekanisme ini secara otomatis mengurangi beban kerja perangkat rem fisik pada kendaraan.
Penggunaan teknologi ini efektif menekan risiko panas berlebih pada rem atau yang dikenal dengan istilah brake fading. Pengemudi tidak perlu terus-menermenerus menginjak pedal rem saat melintasi jalan menurun yang panjang.
Stabilitas Tinggi dan Distribusi Bobot
Aspek lain yang membuat mobil listrik lebih stabil adalah letak komponen utamanya. Penempatan baterai di bagian bawah lantai kendaraan menciptakan pusat gravitasi yang rendah bagi unit tersebut.
Kondisi ini menghasilkan distribusi bobot yang lebih merata dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Efeknya, kendaraan menjadi lebih mantap saat harus bermanuver di jalanan yang berkelok-kelok.
"Pusat gravitasi rendah berkat baterai di bawah lantai membuat stabilitas dan handling mobil listrik lebih baik," kata Gofar.Kemampuan handling yang mumpuni ini meminimalisir gejala limbung pada mobil, sehingga penumpang merasa lebih nyaman. Faktor keamanan ini menjadi nilai tambah krusial bagi pengguna yang sering bepergian ke kawasan pegunungan.
Mengenai kekhawatiran mobilitas jarak jauh, perkembangan infrastruktur pengisian daya kini sudah semakin pesat. Keberadaan jaringan pengisian cepat atau fast charger telah tersebar di koridor utama transportasi.
Menurut Gofar, ketersediaan fasilitas pengisian daya di sepanjang Pulau Jawa sudah sangat memadai untuk mendukung perjalanan antarkota. Hal ini membuat penggunaan kendaraan listrik untuk rute jauh menjadi sangat logis.
"Perjalanan jauh seperti Jakarta ke Surabaya mestinya sudah cukup dan sangat layak dilakukan dengan mobil listrik saat ini," ujarnya.