Penjualan Mobil Listrik di Asia Tenggara Melonjak Tajam

Penjualan Mobil Listrik di Asia Tenggara Melonjak Tajam
Foto: Ilustrasi Penjualan Mobil Listrik di Asia Tenggara Melonjak Tajam.

Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Asia Tenggara mencatat pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan ini bertransformasi menjadi salah satu pasar dengan perkembangan tercepat di dunia.

Dikutip dari Money, laporan International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2026 mengungkapkan bahwa pasar mobil listrik global menunjukkan performa kuat pada 2025. Penjualan dunia melonjak 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga menembus angka lebih dari 20 juta unit.

Melalui data tersebut, tercatat bahwa satu dari empat mobil baru yang dipasarkan di dunia merupakan kendaraan listrik. IEA memproyeksikan penjualan mobil listrik global akan kembali mendaki pada 2026 mencapai kisaran 23 juta unit atau mendekati 30 persen dari total pasar mobil dunia.

Di tingkat regional, perhatian besar tertuju pada Asia Tenggara seiring lonjakan penjualan di Thailand, Indonesia, dan Vietnam selama dua tahun terakhir. IEA mencatat penjualan mobil listrik di negara berkembang Asia di luar China mendaki lebih dari 40 persen pada 2024 hingga mendekati 400.000 unit.

Thailand mempertahankan posisi sebagai pasar mobil listrik terbesar di Asia Tenggara meskipun penjualannya sempat turun 10 persen. Penurunan tersebut dibarengi dengan kenaikan pangsa pasar mobil listrik karena penjualan kendaraan konvensional merosot lebih tajam sebesar 26 persen akibat pengetatan kredit.

Kondisi tersebut membuat pangsa mobil listrik di Thailand menanjak menjadi 13 persen pada 2024 dari yang sebelumnya 11 persen. Sementara itu, Indonesia dan Vietnam menempati posisi sebagai dua negara dengan akselerasi pertumbuhan tercepat di kawasan.

Laporan IEA menyebutkan penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak tiga kali lipat, sedangkan Vietnam meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pangsa pasar kendaraan listrik di kedua negara ini bahkan dilaporkan sudah setara dengan Spanyol dan Kanada.

Akselerasi pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara tidak lepas dari ekspansi agresif yang dilakukan oleh para produsen otomotif asal China. Kapasitas produksi EV dari pabrikan China di Asia Tenggara diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2026 menjadi 1,2 juta kendaraan.

Peningkatan kapasitas ini akan memposisikan Asia Tenggara sebagai salah satu basis produksi luar negeri terbesar bagi korporasi otomotif China. Kehadiran merek seperti BYD, Chery, Great Wall Motor, hingga VinFast memperketat persaingan industri di kawasan.

Faktor harga kendaraan listrik yang semakin terjangkau menjadi pemicu utama minat konsumen. Penurunan harga baterai serta tingginya harga bahan bakar minyak menjadi stimulus tambahan bagi masyarakat untuk beralih dari mobil konvensional.

ÔÇ£Setelah pertumbuhan yang kuat tahun lalu, penjualan mobil listrik global diperkirakan akan meningkat lagi pada tahun 2026," ungkap IEA.

Proyeksi jangka panjang dari Financial Times turut mengindikasikan bahwa pangsa pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara berpotensi melonjak pesat. Angka yang berada di kisaran 20 persen pada 2025 diperkirakan dapat menyentuh 60 persen pada 2035.

Agresivitas Insentif Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia mengambil langkah aktif untuk mendorong akselerasi ekosistem kendaraan listrik domestik. IEA menyoroti langkah pemberian diskon pajak pertambahan nilai (PPN) untuk kendaraan listrik yang sudah berjalan sejak April 2023 dan berlanjut hingga 2025.

Indonesia juga mengoptimalkan statusnya sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia demi memikat investasi rantai pasok baterai. Integrasi produsen baterai dan otomotif global ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta EV regional.

Langkah serupa telah diambil Thailand yang lebih dulu agresif mengucurkan subsidi kendaraan listrik serta insentif produksi untuk menarik investasi global. Namun, perkembangan cepat ini turut menghadirkan tekanan bagi industri otomotif konvensional.

Diberitakan oleh Reuters, sepuluh kelompok industri otomotif Thailand melayangkan peringatan bahwa sektor otomotif negara tersebut terancam krisis jika regulasi kendaraan listrik tidak segera disesuaikan. Produsen lokal dilaporkan kesulitan menandingi serbuan mobil listrik murah dari China yang masuk tanpa tarif impor.

Kondisi ini juga berdampak pada produsen komponen otomotif lokal yang mulai kehilangan pesanan akibat pergeseran tren pasar. Di sisi lain, penurunan biaya baterai dan peningkatan kapasitas pabrik membuat lebih dari 30 persen mobil listrik di China pada 2025 dijual lebih murah daripada mobil berbahan bakar minyak di segmen serupa.

Dampak terhadap Kebutuhan Energi Regional

Adopsi kendaraan listrik yang meluas diperkirakan bakal mendongkrak konsumsi listrik di Asia Tenggara secara signifikan. Laporan Reuters mengindikasikan kebutuhan listrik di kawasan ini akan naik lebih dari 100 terawatt hour (TWh) dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun mendatang.

Kenaikan pasokan energi tersebut dipicu oleh ekspansi kawasan industri hijau, pusat data, serta populasi kendaraan listrik yang terus bertambah. Meski begitu, IEA menilai tren ini akan membantu menekan ketergantungan terhadap konsumsi bahan bakar minyak global secara jangka panjang.

Global EV Outlook 2026 memperkirakan kehadiran kendaraan listrik mampu menggantikan konsumsi minyak dunia hingga lebih dari 5 juta barel per hari pada 2030. Momentum ekspansi di Asia Tenggara diprediksi tetap kuat seiring hadirnya berbagai varian model EV dengan harga yang lebih kompetitif.

Data IEA menunjukkan penjualan kendaraan listrik global pada kuartal pertama 2025 sudah mencatat kenaikan 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sekaligus membukukan rekor baru di mayoritas pasar utama.

Artikel terkait

Rekomendasi