Pengguna Toyota Veloz Hybrid Ungkap Efisiensi BBM yang Signifikan

Pengguna Toyota Veloz Hybrid Ungkap Efisiensi BBM yang Signifikan
Foto: Ilustrasi Pengguna Toyota Veloz Hybrid Ungkap Efisiensi BBM yang Signifikan.

Efisiensi bahan bakar yang signifikan menjadi alasan utama konsumen beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Pengalaman ini dirasakan oleh Hariez Nalendra (42), seorang pemilik Toyota Veloz Q Hybrid yang mengaku terkejut dengan keiritan mobil tersebut setelah digunakan selama kurang lebih satu bulan.

Seperti dilansir dari Otomotif, kendaraan harian tersebut telah menempuh jarak sekitar 1.100 kilometer untuk operasional dalam kota hingga perjalanan luar kota. Sebelum menggunakan model ini, warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur tersebut mengandalkan Avanza G 2023.

Saat ini, unit elektrifikasi tersebut dioperasikan untuk mengantar anak sekolah, mendukung kegiatan usaha, serta menempuh rute akhir pekan menuju Bandung dan Bogor. Berdasarkan indikator MID, konsumsi bahan bakar rata-rata menyentuh angka 18 hingga 19,5 kilometer per liter di jalur padat Jakarta.

Kondisi lalu lintas yang macet justru membuat performa kendaraan semakin efisien. Hal tersebut terjadi karena motor listrik bekerja lebih aktif dibandingkan dengan mesin konvensional berbasis bensin.

Pengeluaran untuk pembelian bahan bakar mengalami penurunan drastis semenjak beralih dari tipe Avanza G 1.5 CVT. Efisiensi biaya ini diakui langsung oleh sang pemilik setelah satu bulan masa kepemilikan.

"Saya itu irit 1,5 juta sebulan. Pokoknya pengeluaran saya bensin itu yang dulu pakai Avanza itu sekitar Rp 2 juta. Sekarang saya isi cuma Rp 500.000 sekian," ujar Hariez.

Aspek kenyamanan ruang interior juga mengalami peningkatan yang cukup terasa. Kualitas peredaman komponen kabin dinilai jauh lebih optimal dibandingkan dengan kendaraan generasi terdahulu.

"Kabinnya itu lebih kedap kalau dibandingin dengan mobil saya yang sebelumnya. Karet-karetnya lebih bagus, terus juga suara mesinnya senyap karena dia hybrid," kata dia.

Suara eksternal seperti gesekan ban pada aspal maupun rintik hujan di area atap menjadi lebih minim. Situasi senyap ini paling dominan dirasakan ketika mobil melaju menggunakan daya baterai sepenuhnya.

Akselerasi mesin juga dinilai responsif karena pasokan torsi instan langsung tersedia begitu pedal gas ditekan. Kemampuan melewati jalur menanjak mengalami penguatan jika dikomparasikan dengan lini produk terdahulu.

"Jauh lebih enak stop and go-nya, semuanya. Mode power juga terasa saya bahkan bisa nyelip pas tanjakan," kata Hariez.

Kinerja sistem pendingin udara menjadi poin tambahan yang dinilai memuaskan. Temperatur di dalam kabin tetap terjaga dingin meski pengaturan suhu diposisikan pada tingkat yang tinggi.

Kritik Terhadap Fitur Hiburan dan Interior

Walaupun unggul dari sisi mekanikal dan konsumsi energi, aspek hiburan serta interior masih menyisakan beberapa catatan. Kelengkapan fitur dianggap kurang kompetitif untuk kendaraan dengan rentang harga Rp 355 juta hingga Rp 360 juta.

Fasilitas hiburan di dalam mobil dinilai masih tertinggal jika dibandingkan dengan pabrikan otomotif asal China yang menawarkan perangkat lebih modern di kelas harga serupa.

"With harga segitu, fitur yang dikasih tetap aja kerasa minimal. Head unit-nya standar banget. Cuma menang di CarPlay doang," kata Hariez.

Monitor yang terpasang pada baris kedua juga mendapatkan sorotan karena dinilai kurang kekinian. Perangkat tersebut masih membutuhkan media penyimpanan eksternal untuk mengoperasikan file video.

"TV yang tengah itu tidak langsung berfungsi, harus pakai flash disk lagi. Zaman sekarang ya harusnya kan kita minimal nonton YouTube atau dia kasih Netflix lah di situ streaming," ujarnya.

Sistem operasional jok bagian depan yang masih menggunakan penyetelan manual turut dikritik. Pada kelas harga tersebut, fitur pengaturan kursi secara elektrik dinilai sudah layaknya tersedia.

Sisi eksterior bagian belakang juga dianggap tidak memiliki perbedaan visual yang kontras dengan varian bensin konvensional. Desain lampu penunjuk arah atau sein dinilai terlalu kecil.

"Lampu sein itu kecil banget. Udah segede tahu gitu tok kayak tahu Sumedang ditempel di mobil. Enggak ada istimewanya sama sekali," kata Hariez.

Akumulasi penghematan pengeluaran bahan bakar dalam jangka panjang diproyeksikan mampu menutup biaya perawatan di masa depan. Estimasi efisiensi tersebut diperkirakan dapat menyeimbangkan potensi pengeluaran untuk penggantian komponen baterai.

Artikel terkait

Rekomendasi