Seorang penggemar K-Pop asal Jakarta bernama Ice Suryani (29) membagikan kisah perjuangannya saat nekat mengikuti audisi agensi SM Entertainment pada tahun 2014 demi menemui idolanya, Lee Donghae. Cerita ini diungkapkan Ice saat diwawancarai di wilayah Manggarai, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/4/2026).
Kecintaan perempuan berdarah Sunda ini terhadap budaya populer Korea Selatan berawal dari kegemarannya pada boyband Super Junior. Dilansir dari Megapolitan, Ice bahkan mempelajari tarian dan bahasa Korea secara otodidak melalui platform YouTube agar bisa lebih dekat dengan dunia idolanya.
Motivasi utama Ice mengikuti seleksi menjadi calon artis tersebut adalah keinginan untuk bertemu langsung dengan personel Super Junior tanpa harus berdesakan dengan penggemar lain. Ia memutuskan mendaftar setelah mendapatkan informasi audisi di sebuah mal Jakarta dari rekannya.
"SM lagi buka audisi di Indonesia dan saya pengin banget ketemu sama Donghae gimana caranya, ya, mau enggak mau saya harus jadi junior dia di agensinya supaya bisa melihat dia secara jelas dan depan mata, enggak usah desak-desakan," ungkap Ice ketika diwawancarai Kompas.com di wilayah Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
Langkah nekat tersebut sempat menemui hambatan karena orang tuanya merasa khawatir jika Ice harus tinggal jauh di Korea Selatan. Sang ibu merasa cemas akan keselamatan putrinya yang saat itu baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atas.
"Nyokap saya enggak ngizininnya itu karena baru lulus SMA 2014. Pertama karena masih kecil, baru lulus dia bilang 'nanti diapa-apain di Korea, dijual, atau diapain' jadi nyokap menentang saya ikut audisi SM," sambung dia.
Meskipun tanpa restu penuh, Ice tetap mendatangi lokasi audisi di Mal Ciputra bersama temannya. Di sana, ia sempat merasa minder melihat peserta lain yang secara fisik lebih menarik dan berusia jauh lebih muda dari dirinya.
"Waktu itu saya ikut audisi menampilkan bakat bernyanyi, yang lain ada modeling dan dance," kata dia.
Harapan untuk lolos akhirnya pupus karena pihak SM Entertainment tidak menerima dirinya sebagai peserta yang berhasil. Namun, kegagalan tersebut tidak menyurutkan kecintaannya pada musik Korea, di mana ia kini juga mengidolakan grup BTS karena terinspirasi oleh perjuangan mereka.
"Kayak termotivasi banget buat saya gitu, kayak, "dia aja bisa apalagi gue'. Kayak keren banget deh," ucap dia.
Ice mengaku tetap konsisten mempelajari bahasa Korea melalui acara varietas secara mandiri. Baginya, kegemaran ini merupakan bagian dari pengembangan diri meskipun sebagian orang menganggap hobi tersebut dilakukan secara berlebihan.
"Bukan karena sok-sok ngikut-ngikutin, kayak kalau kita nonton variety show mereka di aplikasi atau kayak di YouTube, jadi lebih belajar sendiri," ucap Ice.
Hingga saat ini, Ice mengaku tetap menjadi penggemar yang realistis dengan tidak memaksakan diri secara finansial untuk membeli pernak-pernik atau tiket konser. Ia menekankan bahwa kecintaannya pada K-Pop masih berada dalam batas yang wajar.
"Saya belum pernah nonton konser K-Pop, juga enggak pernah beli lightstick atau album atau apa pun printilan-printilan K-Pop. Saya masih di tahap K-Pop yang waras, yang belum segila yang kayak yang di luar sana," kata Ice.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena K-Pop berhasil menyatukan elemen global dan lokal dengan kualitas produksi yang tinggi. Media sosial memperkuat hubungan emosional antara idola dan para penggemarnya.
"K-Pop itu memiliki daya tarik yang kuat karena berhasil menggabungkan elemen-elemen global dan lokal dalam musik dan budaya pop," ungkap Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.
Menurutnya, fenomena ini merupakan bentuk investasi pengalaman dan konsumsi emosional bagi masyarakat. Hiburan tersebut kini telah bergeser menjadi simbol aspirasi yang mendalam bagi identitas sosial individu di Indonesia.
"K-pop memberikan platform bagi penggemar untuk mengekspresikan diri dan menjadi bagian dari komunitas global yang terhubung melalui minat yang sama," sambung Rakhmat.
Rakhmat menambahkan bahwa masyarakat saat ini cenderung mengaitkan hubungan hiburan dengan pencapaian emosional yang lebih luas. Hal ini menjadikan K-Pop bukan sekadar musik, melainkan gaya hidup dan pencarian makna hidup.
"Terutama dari dunia K-Pop, kini menjadi simbol ya, simbol aspirasi dan pengaruh yang sangat besar, jauh melampaui hanya sekadar hiburan," jelas Rakhmat.