Bank Indonesia Kembangkan New BI-Fast dan Perluas Konektivitas Global

Bank Indonesia Kembangkan New BI-Fast dan Perluas Konektivitas Global
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Kembangkan New BI-Fast dan Perluas Konektivitas Global.

Bank Indonesia (BI) tengah memperkuat infrastruktur sistem pembayaran digital melalui pengembangan layanan New BI-Fast guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi transaksi. Langkah ini diambil secara paralel dengan perluasan konektivitas pembayaran lintas negara yang mencakup skema regional dan bilateral pada April 2026.

Data volume transaksi BI-Fast pada triwulan I/2026 tercatat mencapai 1,4 miliar transaksi, melonjak 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dilansir dari Finansial, rata-rata transaksi harian juga mengalami kenaikan dari 14,8 juta menjadi 15,6 juta transaksi pada periode tersebut.

Secara nilai, nominal transaksi BI-Fast menyentuh angka Rp3.519 triliun atau tumbuh sebesar 28,35 persen secara tahunan. Penyempurnaan sistem ini merupakan bagian penting dari implementasi Roadmap Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dirancang untuk integrasi tata kelola jangka panjang.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta menjelaskan bahwa platform baru ini dipersiapkan untuk menghadapi lonjakan volume transaksi sekaligus memperkokoh sistem keamanan dari ancaman kejahatan siber.

"New BI-Fast ini memang dirancang untuk mampu mengantisipasi lonjakan transaksi di masa depan dan juga manajemen risiko yang semakin resilient terutama untuk mencegah risiko fraud maupun cyber," kata Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur BI.

Sistem New BI-Fast nantinya akan dilengkapi dengan fitur Project Nexus yang memungkinkan transaksi ritel antarnegara secara instan. Inisiatif ini melibatkan sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan India, sementara Uni Eropa bertindak sebagai pengamat dalam skema tersebut.

Selain proyek regional, BI mempercepat implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara, termasuk kerja sama terbaru dengan Cina. Sinergi ini merupakan kelanjutan dari peluncuran layanan serupa dengan Korea Selatan yang telah diresmikan pada 1 April 2026.

Uji coba pembayaran Indonesia-Cina menunjukkan hasil positif dengan volume transaksi mencapai 1,64 juta kali senilai Rp556 miliar selama tahap sandboxing. Sebanyak 24 penyelenggara dari Indonesia dan 19 penyelenggara dari Tiongkok telah berpartisipasi dalam masa uji coba tersebut.

Pihak bank sentral memastikan bahwa seluruh aspek teknis dan bisnis telah memenuhi kriteria untuk diimplementasikan secara penuh dalam waktu dekat.

"Jadi pada dasarnya baik dari aspek teknis maupun aspek bisnis ini (QRIS Indonesia -Cina) sudah siap untuk diimplementasikan. Jadi nanti istilahnya tanggal 30 kita akan gunting pita," tutup Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur BI.

Artikel terkait

Rekomendasi