TBS Energi Utama Bukukan Pendapatan US$82,29 Juta Kuartal I 2026

TBS Energi Utama Bukukan Pendapatan US$82,29 Juta Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi TBS Energi Utama Bukukan Pendapatan US$82,29 Juta Kuartal I 2026.

PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) mencatatkan total pendapatan sebesar US$82,29 juta atau setara Rp1,43 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 di Jakarta. Performa keuangan ini menunjukkan kenaikan sebesar 20,6 persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$71,52 juta, sebagaimana dilansir dari Market.

Pertumbuhan pendapatan tersebut didominasi oleh segmen pengelolaan limbah yang kini menyumbang 60 persen dari total pendapatan konsolidasi perusahaan. Sektor ini mengalami lonjakan signifikan sebesar 447,69 persen secara tahunan dari US$9,4 juta menjadi US$51,9 juta pada triwulan pertama tahun ini.

Direktur TBS Juli Oktariana menjelaskan bahwa hasil pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini menjadi bukti keberhasilan perusahaan dalam menjalankan transisi dari bisnis batu bara menuju sektor hijau.

"Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan TBS. Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," ujar Juli Oktariana, Direktur TBS.

Selain limbah, segmen energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) berkapasitas 6 megawatt telah beroperasi penuh dan menyumbang US$3,2 juta. Di saat yang sama, proyek PLTS Terapung 46 MWp dijadwalkan selesai pada kuartal keempat 2026.

Sektor kendaraan listrik juga mencatatkan pertumbuhan penjualan dan penyewaan hingga 137,82 persen menjadi US$3,2 juta. Sementara itu, pada bisnis batu bara, perusahaan melakukan efisiensi dengan menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8 persen guna menjaga margin laba kotor di angka 15,8 persen.

Meskipun pendapatan meningkat, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sebesar US$9,55 juta, namun angka ini telah menyusut 83 persen dibandingkan kerugian US$58,92 juta pada kuartal pertama 2025. Manajemen menegaskan kerugian tersebut dipicu oleh faktor non-tunai akibat proses akuisisi sebelumnya.

"Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta pada kuartal pertama 2026 dan manajemen modal kerja yang disiplin, TBS memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030," jelas Juli Oktariana, Direktur TBS.

Arus kas operasional perusahaan menunjukkan perbaikan dari posisi negatif US$2,9 juta tahun lalu menjadi positif US$9,9 juta pada 2026. Hal ini memberikan ruang bagi perseroan untuk terus mendanai pengembangan bisnis hijau yang kini menjadi inti operasional perusahaan.

"Secara operasional, bisnis waste management ini masih making profit sebenarnya, cuma tadi ada biaya intangible asset itu kita harus depresiasi dan masukkan ke dalam buku," pungkas Juli Oktariana, Direktur TBS.

Artikel terkait

Rekomendasi