Pemerintah Terapkan Mode Survival Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Pemerintah Terapkan Mode Survival Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Foto: Ilustrasi Pemerintah Terapkan Mode Survival Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah mengubah strategi pengelolaan ekonomi nasional ke dalam mode survival untuk menjaga pertumbuhan tetap tinggi di tengah tekanan global pada Jumat (24/4/2026). Langkah ini diambil guna memastikan ketahanan ekonomi dalam kondisi yang tidak lagi dianggap normal.

Perubahan arah kebijakan ini disampaikan dalam acara Simposium PT SMI 2026 yang berlangsung di Jakarta. Dilansir dari Money, strategi bertahan tersebut bertujuan agar indikator ekonomi penting tetap terjaga meskipun situasi dunia sedang penuh ketidakpastian.

"Saya mau jelaskan, di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, jadi bukan business as usual," ujarnya dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syarifudin Karimi memberikan pandangannya terkait istilah yang digunakan pemerintah tersebut. Ia menilai mode ini menempatkan ekonomi dalam status waspada untuk melindungi berbagai sektor krusial.

"Survival mode dalam perspektif ekonomi berarti pemerintah menempatkan perekonomian dalam status kewaspadaan tinggi untuk menjaga pertumbuhan, daya beli, penerimaan negara, belanja publik, investasi, dan lapangan kerja," ujarnya kepada Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).

Syarifudin juga menekankan pentingnya penyampaian pesan yang tepat kepada masyarakat agar tidak muncul anggapan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis besar. Ia menyebut bahwa stabilitas memerlukan komunikasi yang lebih terukur dan menenangkan.

"Stabilitas membutuhkan kejelasan arah, konsistensi fiskal, pengendalian inflasi, perlindungan daya beli, dan pesan publik yang menenangkan," katanya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman melihat adanya pergeseran fokus pemerintah dari rencana ekspansi menuju langkah stabilisasi. Prioritas utama saat ini adalah meredam risiko yang muncul dari tekanan eksternal.

"Yang saya fahami, ÔÇ£survival modeÔÇØ yang dimaksud adalah cerminan dilakukan pergeseran orientasi kebijakan dari ekspansi ke stabilisasi," ujarnya kepada Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).

Rizal menjelaskan bahwa fokus pemerintah kini tertuju pada pengamanan daya beli masyarakat dan stabilitas fiskal. Namun, strategi ini memiliki dampak langsung pada angka pertumbuhan yang mungkin tidak akan melonjak secara agresif.

"Artinya, prioritas diarahkan pada menjaga daya beli minimum, stabilitas fiskal, dan meredam risiko, bukan mendorong lonjakan pertumbuhan," jelasnya.

Kondisi ini menurut Rizal berkonsekuensi pada melambatnya perbaikan kesejahteraan secara umum. Meski demikian, langkah ini dipandang sebagai tindakan antisipasi agar tekanan ekonomi tidak berkembang menjadi krisis yang lebih parah.

"Dengan demikian, fase survival mode adalah strategi bertahan untuk menjaga stabilitas, tetapi konsekuensinya pertumbuhan menjadi moderat dan perbaikan kesejahteraan melambat," ujarnya.

Potensi perlambatan ini diperkirakan akan berdampak pada sektor riil termasuk UMKM dan penciptaan lapangan kerja baru. Rizal menggarisbawahi bahwa kondisi yang terjadi saat ini lebih condong ke arah stagnasi pemulihan.

"Jadi bukan kontraksi tajam, tetapi stagnasi yang membuat pemulihan berjalan lebih lambat," kata Rizal.

Artikel terkait

Rekomendasi