Pemerintah daerah di Jepang kini mulai mengambil langkah unik dengan memberikan subsidi biaya langganan aplikasi kencan bagi warga lajang. Upaya ini dilakukan secara agresif sebagai strategi untuk menahan laju penurunan populasi yang kian mengkhawatirkan di negara tersebut.
Dilansir dari Tekno, pemerintah Prefektur Kochi menjadi salah satu wilayah terbaru yang menawarkan insentif finansial sebesar 20.000 yen atau setara Rp 2,1 juta. Dana tersebut khusus diberikan kepada warga lajang dalam rentang usia 20 hingga 39 tahun.
Bantuan tunai ini dialokasikan untuk membiayai langganan platform kencan digital tertentu yang telah disetujui, salah satunya adalah Tapple. Langkah tersebut merupakan bagian dari visi pemerintah daerah dalam menumbuhkan minat pernikahan di kalangan generasi muda di wilayah mereka.
Program pemberian insentif ini dijadwalkan berlangsung untuk periode langganan mulai April 2026 hingga Maret 2027. Terdapat sejumlah kriteria ketat yang harus dipenuhi calon penerima, termasuk status domisili dan penggunaan aplikasi yang telah melewati standar keamanan serta keandalan tinggi.
Langkah progresif Kochi ternyata bukan yang pertama, sebab Prefektur Miyazaki sebelumnya telah menjalankan program serupa dengan nilai insentif 10.000 yen atau sekitar Rp 1 juta. Sejak Desember 2025, pemerintah Kochi bahkan telah menjalin kemitraan formal dengan Tapple demi menjamin keamanan kencan online.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam budaya mencari pasangan di Jepang yang kini mulai beralih ke ranah digital. Berdasarkan survei JapanÔÇÖs Children and Families Agency tahun 2024, satu dari empat pasangan menikah di bawah usia 39 tahun bertemu melalui platform online.
Data tersebut menunjukkan bahwa jalur digital telah melampaui efektivitas pertemuan tradisional seperti di lingkungan sekolah maupun kantor. Kondisi demografi Jepang yang mendesak menjadi alasan utama di balik munculnya berbagai kebijakan luar biasa ini.
Data dari Ministry of Internal Affairs and Communications mencatat penurunan populasi Jepang mencapai 908.574 orang pada tahun 2024. Tingkat kematian yang menyentuh angka 1,6 juta jiwa hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan angka kelahiran yang hanya berjumlah 686.061 jiwa.
Selain subsidi aplikasi kencan, otoritas setempat juga telah meluncurkan berbagai program pendukung lainnya. Inisiatif tersebut mencakup perluasan fasilitas penitipan anak hingga pemberian bantuan subsidi perumahan bagi keluarga muda.
Bahkan, Tokyo telah mengambil langkah eksperimental dengan menguji coba sistem kerja empat hari dalam seminggu bagi para pegawainya. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang lebih baik guna memicu kenaikan angka kelahiran.