Kebijakan penghapusan insentif pajak bagi kendaraan listrik kini mulai diberlakukan oleh pemerintah. Langkah ini menyebabkan beban pajak mobil listrik berpotensi setara dengan kendaraan bermesin bensin konvensional.
Padahal, keringanan pajak selama ini menjadi instrumen utama yang memicu minat masyarakat untuk beralih dari mobil berbahan bakar minyak ke kendaraan ramah lingkungan. Dikutip dari Suara, perubahan regulasi ini memicu kekhawatiran dari pelaku industri.
Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan, mengungkapkan keresahannya terhadap dampak kebijakan tersebut bagi stabilitas sektor otomotif nasional secara menyeluruh.
"Kami khawatir kebijakan di daerah akan cukup berdampak terhadap niat beli dan berdampak terhadap industri otomotif secara keseluruhan," ujar Luther T Panjaitan dalam diskusi di Jakarta, Rabu 22 April 2026.
Luther menekankan bahwa pengembangan kendaraan listrik tidak hanya berorientasi pada angka penjualan semata. Sektor ini memegang peranan krusial dalam kontribusi terhadap pelestarian lingkungan hidup di masa depan.
Pertumbuhan signifikan pada pasar kendaraan listrik sebelumnya mencerminkan tingginya kepercayaan publik. Sebagai investor di tanah air, BYD menegaskan bahwa konsistensi kebijakan pemerintah sangat memengaruhi keberlanjutan investasi mereka.
"Kami adalah perusahaan yang berinvestasi di Indonesia. Tentu stabilitas policy akan sangat berpengaruh," kata Luther.
Senada dengan hal tersebut, CEO Degree Synergy International, Andrea Suhendra, memprediksi adanya perlambatan dalam tren pembelian. Ia menilai masyarakat cenderung menahan diri akibat ketidakpastian biaya pajak.
"Orang jadi hold (beli mobil listrik). Karena pajak tidak bisa di kontrol. Dan sekarang pemain otomotif mulai bikin tren harga naik. Jadi itu menggaet orang untuk segera beli," ujar Suhendra.
Meskipun kini dibayangi tantangan regulasi, pasar mobil listrik di Indonesia sebenarnya baru saja mencatatkan performa gemilang sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan volume penjualan meningkat pesat dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan mobil listrik secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke diler mencapai angka 103.931 unit.
Angka tersebut merepresentasikan lonjakan sebesar 141 persen. Pencapaian ini sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak kendaraan listrik mulai diperkenalkan secara masif kepada konsumen di pasar domestik.
Berkat pertumbuhan tersebut, kontribusi kendaraan listrik terhadap total penjualan mobil nasional telah melampaui ambang 13 persen selama tahun 2025. Data ini menjadi bukti kuat adanya akselerasi adopsi teknologi EV di tengah masyarakat Indonesia.