PT Pelindo Terminal Petikemas mengambil langkah strategis dengan memperkuat kapasitas pelabuhan melalui modernisasi alat bongkar muat. Langkah ini direalisasikan lewat penambahan serta relokasi unit alat di berbagai terminal penting guna memacu efisiensi logistik nasional.
Seperti dilansir dari Investor Daily, sejumlah infrastruktur utama telah tiba di lokasi tujuan. TPK Semarang mendapatkan tambahan empat unit Quay Container Crane (QCC), sedangkan IPCTPK Panjang menerima satu unit QCC.
Terminal Petikemas Surabaya juga memperkuat lini operasionalnya dengan mendatangkan empat unit QCC dan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG). Penguatan fasilitas juga menyasar terminal regional demi menyokong kelancaran arus barang antarwilayah.
Distribusi alat ke daerah mencakup pengiriman satu unit RTG ke TPK Kendari, empat unit RTG ke TPK Banjarmasin, serta satu unit RTG ke TPK Nilam. Selain itu, terdapat sejumlah alat yang saat ini masih dalam tahap fabrikasi.
Proses produksi tersebut meliputi dua unit QCC dan empat unit RTG untuk TPK Belawan, dua unit QCC untuk TPK Perawang, serta dua unit RTG untuk Terminal Kijing. Optimalisasi fasilitas turut ditempuh melalui skema relokasi, salah satunya pemindahan dua unit QCC dari TPS Surabaya ke TPK Berlian.
Pakar Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Raja Oloan Saut Gurning memberikan analisis terkait fenomena ini. Peningkatan instrumen bongkar muat dipandang sebagai jawaban atas lonjakan volume kontainer dan kunjungan kapal.
"Secara mendasar, kenaikan kedatangan kapal yang membawa kargo dalam kemasan kontainer menandakan adanya kenaikan ekonomi. Turunannya adalah perdagangan atau interaksi ekonomi lewat laut," katanya.
Kendati demikian, kelancaran di terminal tidak hanya bertumpu pada ketersediaan alat semata. Faktor pendukung lain seperti kesiapan dermaga, lapangan penumpukan, gudang, hingga akses gerbang terminal memegang peranan krusial.
Kemampuan memangkas waktu singgah kapal atau turn around time agar sesuai dengan slot pelayanan menjadi indikator utama keberhasilan terminal. Di samping penambahan unit baru, pihak pengelola juga melakukan langkah retrofitting untuk memperbarui alat lama demi memperpanjang masa pakai.
Resiliensi Logistik di Terminal Regional
Langkah penguatan di wilayah regional dinilai sangat strategis, terutama melihat dinamika di Terminal Kijing. Sepanjang tahun 2025, pelabuhan ini mencatatkan kenaikan kunjungan kapal hingga 15 persen dengan total mencapai 741 panggilan.
"Terminal Kijing mengalami lonjakan kunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah kering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina," ujarnya.
Raja Oloan Saut Gurning menambahkan bahwa aktivitas di Kijing selama ini masih bertumpu pada Harbour Mobile Crane (HMC) dan Reach Stacker. Oleh karena itu, kehadiran alat baru sangat mendesak untuk mendongkrak produktivitas.
Kondisi serupa terlihat di TPK Banjarmasin yang memegang peran sebagai jalur utama logistik Kalimantan berkat pertumbuhan arus barang domestik yang kuat. Kenaikan ini didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas industri hinterland penyokong sektor pertambangan.
"Arus barang domestik di koridor ini menunjukkan resiliensi yang kuat, terutama dipicu konsumsi domestik dan kebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan," katanya.
Kondisi tersebut memicu kepadatan frekuensi kunjungan kapal yang mulai memberikan tekanan pada kapasitas tampung lapangan penumpukan. Sementara itu di Kendari, urgensi perluasan kapasitas mencuat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau Kendari New Port yang kini memiliki kapasitas menembus kisaran 116.000 TEUs.