Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai memberikan dampak yang nyata bagi kehidupan masyarakat di wilayah pedesaan dan kelompok perumahan rendah. Kondisi tersebut memicu kenaikan biaya produksi pertanian serta harga bahan pangan pokok akibat ketergantungan pada komponen impor, seperti dilansir dari Money.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa dampak penurunan kurs mata uang ini dirasakan langsung oleh masyarakat bawah meskipun mereka tidak terlibat dalam transaksi menggunakan valuta asing.
"Kalau ditanya apakah pelemahan rupiah paling terasa ke masyarakat kelas bawah dan desa, jawabannya justru iya. Memang mereka tidak bertransaksi langsung memakai dollar AS, tetapi banyak kebutuhan dasar mereka sangat memengaruhi barang dan bahan baku impor," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Yusuf memaparkan bahwa sektor pertanian menjadi lini pertama di pedesaan yang mendeteksi imbas koreksi kurs ini karena ketergantungan pada komponen luar negeri yang tinggi.
"Dampaknya paling cepat terasa lewat pertanian. Bahan baku pupuk, pestisida, benih, sampai obat ternak masih banyak impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik. Subsidi pupuk memang ditahan pemerintah, tetapi pupuk non-subsidi dan input pertanian lain biasanya lebih cepat naik. Akibatnya margin petani ikut tertekan," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Selain pada aspek produksi, pergerakan nilai tukar ini juga merembet ke sektor konsumsi pangan harian yang menjadi komoditas utama warga desa.
"Laru dari sisi konsumsi harian, banyak makanan yang sangat dekat dengan masyarakat desa ternyata sensitif terhadap kurs. Gandum untuk mi instan dan roti itu impor, begitu juga sebagian besar kedelai untuk tahu dan tempe." ungkap Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Tekanan ekonomi ini kemudian diperparah oleh biaya operasional transportasi serta komponen penting lainnya seperti kesehatan.
"Jadi walaupun masyarakat desa tidak memegang dollar, harga kebutuhan pokok mereka tetap ikut terdorong naik ketika rupiah melemah," tegas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Menurut Yusuf, struktur pengeluaran yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan primer menjadi alasan utama mengapa hantaman ekonomi dari melemahnya rupiah ini terasa jauh lebih signifikan di tingkat pedesaan.
"Energi dan distribusi juga terdampak. Ketika kurs melemah, tekanan terhadap BBM dan biaya logistik meningkat. Ini membuat ongkos distribusi barang ke desa lebih mahal, sementara biaya petani mengangkut hasil panen juga ikut naik. Dari sisi kesehatan juga sama, karena sebagian besar bahan baku obat masih impor sehingga harga obat berpotensi ikut naik," tutur Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Faktor mobilitas dan fleksibilitas keuangan juga membedakan tingkat keparahan dampak antara masyarakat desa dan kota.
"Kenapa dampaknya lebih berat ke desa? Karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga desa memang untuk pangan dan energi. Jadi ketika harga dua komponen itu naik, daya beli mereka lebih cepat tergerus dibandingkan kelompok menengah atas yang punya penghematan dan ruang konsumsi lebih fleksibel," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Dampak yang signifikan terhadap masyarakat kelas menengah dan bawah juga diamini oleh akademisi yang melihat terbatasnya ruang gerak finansial mereka.
"Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki banyak pilihan," ujar Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Teguh menjelaskan, terdapat beberapa hal yang perlu diantisipasi terkait kondisi kurs ini, terutama mengenai imported inflation dari barang-barang luar negeri.
"Banyak juga barang-barang kita yang impor," ucap Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Lebih lanjut, Teguh menjelaskan bahwa asumsi warga desa terbebas dari dampak ini adalah keliru karena adanya interaksi ekonomi yang kuat antara desa dan kota.
"Tetapi asumsi bahwa warga desa tidak terdampak ini tidak betul. Jangan lupa desa dan kota juga saling melakukan aktivitas ekonomi. Kita kota yang terdampak, desa akan kena juga," ungkap Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Nilai tukar rupiah di pasar spot hingga Senin (18/5/2026) pukul 14.36 WIB berada di level Rp 17.662 per dollar AS atau melemah 65 poin setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah Rp 17.680 pada pukul 12.26 WIB. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan kejatuhan kurs disebabkan oleh sentimen risk off global serta respons pasar terhadap dinamika internal.
"Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik. Range Rp 17.550 sampai Rp 17.650," ungkap Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Menurut Lukman, selain faktor global, sentimen negatif internal juga turut membayangi pergerakan nilai tukar hari ini.
"Pidato tersebut umumnya direspons negatif investor," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi tren pelemahan nilai tukar rupiah ini saat menghadiri kegiatan di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
"Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Prabowo menambahkan, di tengah dinamika situasi global yang membuat negara lain panik, kondisi ketahanan domestik terpantau masih stabil.
"Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Komentar mengenai nilai tukar rupiah juga disampaikan Presiden Prabowo dalam acara peresmian koperasi desa pada hari yang sama.
"Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa tidak pakai dollar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini?" ungkap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Presiden menegaskan agar seluruh pihak tetap optimis dan percaya pada kekuatan serta fundamental ekonomi nasional.
"Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau mengomong apa. Indonesia kuat, percaya pada kekuatan kita," tutup Prabowo Subianto, Presiden RI.