Ekonom Sebut Masalah Fiskal Picu Pelemahan Rupiah ke Rp17.600

Ekonom Sebut Masalah Fiskal Picu Pelemahan Rupiah ke Rp17.600
Foto: Ilustrasi Ekonom Sebut Masalah Fiskal Picu Pelemahan Rupiah ke Rp17.600.

Nilai tukar rupiah dilaporkan melemah hingga menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/5/2026) akibat dipengaruhi oleh persoalan fiskal dan ketidakpastian struktural di dalam negeri, bukan semata karena faktor moneter.

Lonjakan harga energi global berdampak pada penyempitan ruang fiskal pemerintah Indonesia saat ini. Lonjakan harga minyak dunia turut meningkatkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM), sementara penerimaan pajak nasional tercatat masih relatif rendah.

Pelemahan mata uang garuda ini terkonfirmasi melalui data Bloomberg pada Senin (18/5/2026) pukul 12.40 WIB, di mana nilai tukar rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.679 per dolar AS, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

"Isu fiskal ini adalah menyempitnya ruang fiskal akibat naiknya beban subsidi BBM karena harga yang meningkat dan penerimaan pajak yang rendah," ujar Riefky, Peneliti LPEM FEB UI saat dihubungi pada Senin (18/5/2026).

Kebutuhan belanja pemerintah untuk sejumlah program prioritas seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) membuat tekanan fiskal kian membesar. Selain itu, kebijakan pemerintah yang dinilai kerap berubah-ubah memunculkan ketidakpastian di pasar dan menekan sentimen terhadap aset domestik.

"Karena isunya bukan dari kebijakan moneter, tapi lebih dari aspek fiskal dan struktural," tegas Riefky.

Upaya perbaikan postur fiskal melalui refocusing dan realokasi belanja negara disarankan untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Anggaran program MBG dan KDMP dinilai perlu dievaluasi agar dialihkan ke sektor produktif yang berdampak langsung pada masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

"Postur fiskal diperbaiki dengan melakukan refocusing dan realokasi belanja dari pos anggaran yang kurang produktif dan dialihkan ke belanja bansos dan belanja produktif," katanya.

Faktor eksternal seperti peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah diakui tetap menjadi salah satu pemicu utama. Ketegangan meningkat setelah muncul laporan mengenai persiapan kemungkinan serangan lanjutan oleh AS dan Israel terhadap Iran menyusul mandeknya negosiasi tidak langsung.

"Ada faktor eksternal dan internal. Dari faktor eksternal tentu berasal dari konflik Iran-AS. Tapi dari sisi internal ini muncul akibat isu fiskal dan struktural," ujar Riefky.

Langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi moneter maupun skema Bond Stabilization Fund (BSF) oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai belum akan berdampak signifikan selama akar persoalan fiskal dan struktural belum dibenahi secara konsisten.

Artikel terkait

Rekomendasi