Sejumlah pelaku usaha kuliner mulai mengeluhkan lonjakan harga elpiji nonsubsidi ukuran 12 kilogram yang terjadi sejak pertengahan April 2026. Kenaikan harga ini memaksa para pemilik warung dan restoran menyesuaikan harga jual menu mereka kepada pelanggan.
Kenaikan biaya operasional tersebut dirasakan sangat membebani, terutama bagi sektor bisnis yang menggantungkan proses produksinya pada penggunaan gas setiap hari. Seperti dikutip dari Kompas, lonjakan harga per tabung mencapai angka lebih dari Rp30.000.
Data di lapangan menunjukkan bahwa tabung gas 12 kilogram yang sebelumnya dibanderol Rp192.000, kini merangkak naik menjadi Rp228.000 per tabung. Selisih harga yang cukup signifikan ini berdampak langsung pada manajemen modal para pengusaha kecil dan menengah.
Kondisi ini memaksa para pelaku usaha kuliner untuk memutar otak dalam menambah modal operasional. Langkah tersebut diambil sebagai upaya terakhir agar roda usaha mereka dapat terus berputar di tengah tekanan biaya produksi yang kian tinggi.
Harapan Pelaku Usaha Terhadap Stabilitas Harga
Para pemilik usaha di sektor pangan ini berharap agar harga gas elpiji dapat segera kembali stabil. Stabilitas harga sangat dinantikan guna meringankan beban biaya produksi yang melonjak tajam dalam waktu singkat.
Selain demi kelangsungan bisnis, harapan akan harga yang normal bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat luas. Jika harga gas tetap tinggi, para pengusaha khawatir kenaikan harga makanan akan membuat konsumen mengurangi konsumsi mereka secara drastis.