Sentra ikan hias di Tempat Promosi Hasil Perikanan (TPHP) Cengkareng, Jakarta Barat, kini tengah berjuang bangkit dari keterpurukan ekonomi. Kondisi gedung yang mulai kusam dan sepinya pembeli pascapandemi Covid-19 menjadi tantangan berat bagi para pedagang yang masih bertahan di sana.
Gedung yang berlokasi di Jalan Cendrawasih I tersebut tampak kurang terawat dengan tumbuhan liar yang menutupi sebagian fasad bangunan. Di dalamnya, banyak kios yang memilih tutup, sementara pedagang yang tersisa lebih banyak menghabiskan waktu menunggu pembeli di koridor yang redup.
Dilansir dari Megapolitan, penurunan jumlah pengunjung dirasakan sangat tajam sejak pandemi berakhir. Nando (44), salah satu pedagang dari Nagatawa Aquarium, menceritakan perubahan drastis suasana pasar yang sudah ia huni selama tujuh tahun tersebut.
"Ibarat kata kalau bicara ramai, dulu tuh untuk duduk saja susah. Saking padatnya traffic pengunjung, kami terlalu sibuk untuk melayani. Kalau sekarang pedagang malah hampir semuanya duduk terus, main handphone," kata Nando.
Penurunan aktivitas ini berdampak langsung pada pendapatan para pedagang. Nando menyebutkan omzetnya yang dulu mencapai Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan, kini merosot hingga di bawah Rp 10 juta.
Kondisi serupa dialami Arif (21) dari toko Calysta Aquatic yang menyoroti anjloknya harga komoditas ikan hias tertentu. Ia memberikan contoh harga ikan cupang yang dulu laku Rp 150.000 hingga Rp 200.000, kini hanya dihargai sekitar Rp 20.000 saja.
"Dulu kalau weekend, dari dua toko itu bisa sampai Rp 30 juta dalam satu hari. Kalau sekarang sudah dapat Rp 1 juta itu sudah ya alhamdulillah lah. Sangat-sangat jauh. Pembeli sehari paling 10 orang, padahal dulu bisa lebih dari 50 pelanggan," ujar Arif.
Nando menilai lesunya daya beli masyarakat menjadi faktor utama sepinya pasar, meski jumlah pehobi ikan hias sebenarnya tidak berkurang. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat orang lebih menahan diri untuk mengeluarkan uang demi koleksi ikan hias.
"Kalau pehobi justru makin banyak. Tapi kondisi ekonomi itu kan memang lagi tidak baik-baik saja ya, jadi orang enggak banyak lagi ngeluarin uang untuk koleksi ikan-ikan hias," tutur Nando.
Selain faktor ekonomi makro, fisik bangunan yang tampak terbengkalai disinyalir membuat calon pengunjung enggan mampir. Perbaikan fasilitas gedung dianggap perlu untuk meningkatkan daya tarik dan rasa penasaran masyarakat untuk berkunjung kembali.
"Fasilitas gedung memang sudah terlihat tua, jadi seolah-olah tampak dari luar itu seperti pasar ikan ini sudah hampir tutup lah, terbengkalai. Mungkin kalau diperbaiki lagi sehingga dari luar kelihatan lebih menarik, pengunjung ada rasa penasaran untuk berkunjung kembali," jelas Nando.
Untuk mengatasi kebuntuan ini, para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Ikan Hias Cengkareng (APIC) mulai menyiapkan strategi jemput bola. Salah satu rencana utamanya adalah mengundang sekolah-sekolah di Jakarta Barat untuk melakukan kunjungan edukasi rutin.
"Kami akan mengundang sekolah-sekolah khususnya di Jakarta Barat untuk menjadi kegiatan rutin mereka berkunjung, istilahnya kunjungan edukasi lah terhadap ikan-ikan hias yang ada di sini. Rencananya awal bulan depan udah dimulai," papar Nando.
Pihak pemerintah melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Kepala Seksi Perikanan Sudin KPKP Jakarta Barat, Aas Asih, mengonfirmasi telah melakukan pertemuan dengan pedagang pada April 2026.
"Kami memfasilitasi dan mendorong kegiatan kunjungan edukatif dari anak sekolah sebagai sarana pembelajaran. Di sisi lain, kami juga memanfaatkan kegiatan sterilisasi kucing di lokasi TPHP untuk mengenalkan potensi ikan hias kepada komunitas pencinta hewan," kata Aas.
Kepala UPT Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) DKI Jakarta, Risnadi, juga mendorong para pedagang untuk lebih aktif dalam promosi digital. Ia menawarkan bantuan publikasi melalui media sosial resmi pemerintah untuk meramaikan kembali lokasi tersebut.
"Pedagang bisa kasih materi ke saya, kami akan bantu publikasi rutin melalui media sosial PPISHP, kami juga rutin datang ke sana. Yang penting tempat ini ramai dulu," kata Risnadi.
Sebagai langkah tambahan, jam operasional pasar kini diusulkan bertambah hingga pukul 22.00 WIB. Risnadi juga telah mengajukan rehabilitasi gedung kepada Pemprov DKI Jakarta, meskipun realisasinya masih menunggu ketersediaan anggaran dan bukti peningkatan transaksi di lokasi tersebut.
"Logikanya kalau masih begitu-begitu saja, omzet maaf misalnya sehari tidak sampai Rp 2 juta, kan agak susah. Tapi yang penting ramai dulu deh. Kalau pengunjungnya ramai dan omzetnya naik, saya pede mengajukan tambahan anggaran perbaikan," ujar Risnadi.