Sejumlah pedagang di Tempat Promosi Hasil Perikanan (TPHP) Cengkareng, Jakarta Barat, mengeluhkan kondisi pasar yang kian sepi pengunjung pada Rabu (29/4/2026). Penurunan aktivitas jual beli ini menyebabkan pendapatan para pelaku usaha merosot tajam dibandingkan periode sebelumnya, dilansir dari Megapolitan.
Kondisi lesunya pasar ini mulai dirasakan para pedagang sejak berakhirnya masa pandemi Covid-19. Lokasi yang dahulu padat oleh aktivitas pembeli kini lebih banyak diisi oleh para pedagang yang hanya menunggu sambil mengamati layar ponsel akibat minimnya interaksi perdagangan.
Nando, pedagang dari Nagatawa Aquarium yang telah berjualan selama tujuh tahun, memaparkan perbedaan situasi pasar yang sangat kontras antara masa lalu dengan saat ini.
"Kita ibarat kata kalau bicara ramai, dulu tuh untuk duduk saja susah. Saking padatnya traffic pengunjung, kita terlalu sibuk untuk melayani. Kalau sekarang pedagang malah hampir semuanya duduk terus, main handphone," kata Nando.
Dampak dari sepinya pengunjung membuat omzet bulanan Nando turun drastis dari kisaran Rp30 juta hingga Rp40 juta menjadi kurang dari Rp10 juta. Ia menilai pelemahan ekonomi menjadi faktor utama yang membuat masyarakat menahan pengeluaran untuk hobi koleksi ikan.
"Kalau pehobi justru makin banyak. Tapi kondisi ekonomi itu kan memang lagi tidak baik-baik saja ya, jadi orang enggak banyak lagi ngeluarin uang untuk koleksi ikan-ikan hias," ucap Nando.
Selain masalah daya beli, Nando menyoroti ketersediaan stok ikan unik yang kini lebih lama terjual dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Bahkan ikan-ikan unik kayak Palmas, itu harganya sekitar Rp 150.000 untuk yang albino, dulu cepet banget dibeli orang, sekarang mah paling tiga bulan baru keluar," sambung Nando.
Ia juga menyayangkan kondisi infrastruktur gedung yang terlihat menua sehingga memberikan kesan kurang menarik bagi calon pengunjung dari luar area pasar.
"Fasilitas gedung memang sudah terlihat tua, jadi seolah-olah tampak dari luar itu seperti pasar ikan ini sudah hampir tutup lah, terbengkalai. Mungkin kalau diperbaiki lagi sehingga dari luar kelihatan lebih menarik, pengunjung ada rasa penasaran untuk berkunjung kembali," jelas Nando.
Rencana kerja sama dengan institusi pendidikan tengah disiapkan oleh Asosiasi Pedagang Ikan Hias Cengkareng (APIC) untuk mendatangkan massa kembali ke pusat perikanan tersebut.
"Kita akan mengundang sekolah-sekolah khususnya di Jakarta Barat untuk menjadi kegiatan rutin mereka berkunjung, istilahnya kunjungan edukasi lah terhadap ikan-ikan hias yang ada di sini. Rencananya awal bulan depan udah dimulai," kata Nando.
Arif, penjual di toko Calysta Aquatic, menambahkan bahwa periode pandemi justru merupakan masa keemasan bagi bisnis ikan hias karena banyaknya warga yang mencari hiburan di rumah.
"Memang Corona itu masalah, tapi di perikanan itu jadi benar-benar kayak tempat wisata banget. Tiap hari itu ramai. Dari ikan apa saja laku, soalnya kebanyakan orang yang gabut di rumah. Apalagi cupang, itu benar-benar meledak," ujar Arif.
Namun, kejayaan tersebut kini sirna seiring dengan jatuhnya harga beberapa jenis ikan populer dan penurunan jumlah pelanggan harian yang signifikan.
"Dulu kalau weekend, dari dua toko itu bisa sampai Rp 30 juta dalam satu hari. Kalau sekarang sudah dapat Rp 1 juta itu sudah ya alhamdulillah lah. Sangat-sangat jauh. Pembeli sehari paling 10 orang, padahal dulu bisa lebih dari 50 pelanggan," tutur Arif.
Pemanfaatan platform digital kini menjadi salah satu strategi alternatif yang diambil para pedagang untuk menarik minat pembeli di luar pasar fisik.
"Kalau zaman sekarang kan banyak orang lebih pilih belanja lewat online gitu ya, kita juga ikut mulai promosi lewat media sosial, biar lebih banyak orang yang tau sama perikanan ini," ucap Arif.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Kepala UPT Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP), Risnadi, memberikan tanggapan terkait keluhan ini dengan menyebutkan adanya keringanan biaya retribusi.
"Kalau pemerintah, dalam hal ini UPT PPISHP termasuk Pemda DKI, sebenarnya kita sudah banyak memberi keringanan pada pedagang. Contohnya, retribusi yang ada di pedagang bisa dicek, itu satu tahun hanya Rp 2,2 juta. Satu bulan itu tidak sampai Rp 200 ribu," kata Risnadi.
Risnadi menawarkan bantuan publikasi melalui kanal digital pemerintah guna mendongkrak visibilitas sentra ikan hias Cengkareng kepada masyarakat luas.
"Tempat terkait dengan penjualan itu yang kuat kan media sosial nih. Sampaikan saja materi ke saya, kita bantu publikasi. Kita juga rutin ke sana, dua hari sekali. Tujuannya yang penting ramai dulu, masyarakat datang ke situ, bisa melihat, dan alhamdulillah seandainya membeli," jelas Risnadi.
Terkait revitalisasi bangunan, Risnadi menekankan bahwa peningkatan jumlah kunjungan merupakan syarat penting untuk pengajuan anggaran perbaikan fisik gedung.
"Logikanya kalau masih begitu-begitu saja, omzet maaf misalnya sehari tidak sampai Rp 2 juta, kan agak susah. Tapi yang penting ramai dulu deh. Kalau ramai, omzetnya naik, saya pede nih untuk ajukan, ayo anggaran ditambah," ucap Risnadi.