Pedagang Emas Kaki Lima di Pasar Senen Menyusut Akibat Penipuan

Pedagang Emas Kaki Lima di Pasar Senen Menyusut Akibat Penipuan
Foto: Ilustrasi Pedagang Emas Kaki Lima di Pasar Senen Menyusut Akibat Penipuan.

Jumlah pedagang emas yang beroperasi di trotoar Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengalami penurunan drastis hingga menyisakan sembilan orang pada Selasa (14/4/2026). Fenomena penyusutan ini dipicu oleh tingginya risiko kerugian akibat peredaran emas palsu bermodus lapisan di kawasan tersebut.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa kejayaan sektor informal tersebut yang sebelumnya mampu menampung puluhan pelapak di sepanjang jalur pejalan kaki. Dilansir dari Megapolitan, para pelaku usaha kini harus menghadapi ancaman penipuan yang dapat menguras modal usaha mereka dalam sekejap.

Limbong, salah satu pedagang emas yang masih bertahan, mengungkapkan bahwa dahulu terdapat sekitar 30 orang yang membuka lapak hingga ke arah rumah sakit. Namun, faktor kerugian finansial memaksa mayoritas dari mereka untuk berhenti beroperasi.

"Dulu di sini penuh, bisa sampai 30 orang yang berjajar sampai ke arah rumah sakit. Sekarang tinggal sekitar 9 orang saja, karena banyak yang rugi," ujar Limbong.

Para pedagang kerap terkecoh oleh perhiasan yang secara fisik terlihat sangat meyakinkan dengan warna kuning mengilap dan bobot yang sesuai. Namun, setelah dilakukan pengujian lebih mendalam, diketahui bahwa bagian dalam perhiasan tersebut bukan merupakan logam mulia.

"Wah sering! Kebanyakan kena tipu emas lapisan. Luarnya emas, dalamnya bukan," kata Limbong.

Ketidakmampuan membedakan emas asli dengan emas lapisan secara instan menjadi kendala utama di lapangan. Limbong menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, terdapat pedagang yang mengalami kerugian hingga angka ratusan juta rupiah akibat transaksi barang palsu tersebut.

"Kalau ada yang mau jual jumlah besar, kita harus lebih hati-hati. Kita lihat juga dari gerak-gerik orangnya," ujar Limbong.

Pedagang lain bernama Poman juga menceritakan pengalaman pahitnya saat bertransaksi di pinggir jalan. Menurut pengakuannya, nilai kerugian yang dialami para pedagang bervariasi namun tetap memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan modal mereka.

"Pernah rugi sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang sampai Rp 20 juta," ujar Poman.

Selain dihantui risiko penipuan, ketidakpastian pendapatan harian menjadi alasan lain yang membuat profesi ini semakin ditinggalkan. Poman bahkan harus mencari penghasilan tambahan sebagai pengemudi ojek untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

"Karena jualan emas ini tidak pasti setiap hari ada yang datang," kata Poman.

Transaksi di lokasi ini umumnya berlangsung sangat cepat tanpa adanya pemeriksaan identitas penjual yang mendalam. Para pedagang yang tersisa kini hanya mengandalkan insting dan pengamatan perilaku calon penjual guna menghindari potensi penipuan emas lapisan di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi