Pedagang Emas Pinggir Jalan Senen Jadi Alternatif Investasi Warga

Pedagang Emas Pinggir Jalan Senen Jadi Alternatif Investasi Warga
Foto: Ilustrasi Pedagang Emas Pinggir Jalan Senen Jadi Alternatif Investasi Warga.

Sejumlah pedagang emas informal di trotoar Jalan Senen III, Jakarta Pusat, tetap menjadi pilihan warga untuk mencairkan aset perhiasan dengan prosedur cepat pada Selasa (14/4/2026). Dilansir dari Megapolitan, transaksi dilakukan secara presisi menggunakan peralatan sederhana seperti batu uji hitam dan cairan asam nitrat di tengah kenaikan harga emas global.

Aktivitas ekonomi ini bertahan meski tanpa etalase mewah, mengandalkan metode pengujian manual untuk menentukan kadar 18, 22, hingga 24 karat. Para pedagang memantau pergerakan harga pasar setiap hari guna menetapkan nilai tawar bagi pelanggan yang membutuhkan dana darurat.

Poman, seorang pedagang berusia 60 tahun, menjelaskan teknis pengujian menggunakan cairan asam nitrat yang diteteskan pada bekas kikisan logam di batu uji.

"Kalau dites pakai cairan, lihat ini timbul warna putih seperti susu. Itu tandanya perak," kata Poman.

Poman menambahkan bahwa logam mulia memiliki karakteristik fisik yang berbeda dibandingkan material lain saat terpapar zat penguji.

"Kalau emas tua, dia tetap kuning abadi meski disiram air penguji. Itulah keistimewaan emas," ucap Poman.

Limbong, pedagang lain di lokasi yang sama, menyebutkan bahwa proses penentuan harga dimulai dengan verifikasi kadar sebelum masuk ke tahap penimbangan berat fisik barang.

"Kami tes dulu, kami uji kadarnya berapa. Digosok di batu, pakai air penguji. Ada air menguji emas atau bukan, dan air menguji kadar emas," kata Limbong.

Setelah memastikan tingkat kemurnian perhiasan, pedagang kemudian menawarkan harga beli yang kompetitif berdasarkan berat gramasi terkini.

"Setelah tahu kadarnya baru kami tawar harganya berdasarkan berat gramnya," ujar Limbong.

Limbong juga menunjukkan stok perak miliknya dan menjelaskan potensi nilai ekonomis dari logam tersebut jika dijual dalam volume besar.

"Harganya sekitar Rp 30.000 per gram. Kalau sampai 1 kilogram, nilainya bisa Rp 30 juta," kata Limbong.

Mengenai mekanisme penetapan harga, para pedagang di Senen tidak menggunakan intuisi melainkan merujuk pada fluktuasi harga domestik dan internasional.

"Mengacu ke harga pasar umum. Kami lihat dari berita, koran, atau media. Tiap hari harus update harga," kata Limbong.

Limbong memerinci bahwa harga jual emas 24 karat di lapaknya mencapai Rp 2,8 juta per gram, dengan selisih keuntungan tertentu dari harga beli.

"Kalau kami jual lagi sekitar Rp 2,8 juta," ujar Limbong.

Risiko penipuan emas lapisan menjadi tantangan utama, sehingga pedagang tidak hanya mengandalkan kimia tetapi juga penilaian perilaku konsumen.

"Kami lihat juga dari gerak-gerik orangnya. Kalau mencurigakan, biasanya kami enggak mau ambil risiko," ujar Limbong.

Eksistensi lapak ini merupakan hasil regenerasi dari para pedagang terdahulu, meskipun jumlahnya kini menyusut drastis menjadi sembilan orang saja.

"Belajar dari orang-orang lama. Sekarang mereka sudah pada meninggal, jadi kami ini penerusnya. Istilahnya regenerasi," kata Limbong.

Onah, salah satu warga yang menggunakan jasa lapak tersebut, mengaku memilih jalur informal karena kepraktisan proses tanpa kewajiban melampirkan nota pembelian.

"Karena lebih gampang aja. Kalau di toko itu ribet, banyak syarat. Kadang kami cuma mau jual cepat, tapi ditanya surat, nota, kartu pembelian," kata Onah.

Meski menyadari adanya faktor risiko di pinggir jalan, rasa percaya muncul karena para pedagang telah lama menetap di lokasi tersebut.

"Khawatir pasti ada ya. Namanya juga di pinggir jalan. Tapi saya sudah sering ke sini, jadi sudah percaya sama orangnya," kata Onah.

Faktor kecepatan pencairan dana menjadi alasan utama bagi warga yang memerlukan tambahan biaya hidup secara mendadak.

"Yang penting itu cepat dan nggak ribet. Kalau butuh uang mendadak, mau harga sedikit beda juga enggak masalah," ujar Onah.

Yaini, pelanggan lainnya, mengungkapkan bahwa perhiasan rusak atau tidak terpakai sering menjadi objek transaksi untuk memenuhi kebutuhan harian.

"Biasanya saya jual perhiasan yang sudah rusak, kayak gelang yang putus atau cincin yang sudah penyok. Kadang juga anting yang sudah enggak kepakai," kata Yaini.

Bagi Yaini, emas fisik berfungsi sebagai tabungan darurat yang paling mudah diuangkan tanpa birokrasi perbankan atau toko resmi.

"Karena kebutuhan. Buat tambahan uang sehari-hari. Kadang kalau lagi mepet atau ada keperluan mendadak, ya emas ini yang paling gampang dicairin," kata Yaini.

Pilihan jatuh pada pedagang kaki lima karena efisiensi waktu yang ditawarkan jauh melampaui prosedur formal.

"Kalau di sini lebih cepat," ujar Yaini.

Berbeda dengan lapak jalanan, Insan, pemilik toko emas di Pasar Senen, menyatakan bahwa harga di tokonya lebih terukur dan mengikuti standar industri.

"Harga hari ini, emas kadar 24 karat itu di kisaran Rp 2,8 juta per gram untuk harga jual," kata Insan.

Toko biasanya menetapkan margin untuk biaya produksi dan peleburan ulang saat membeli kembali emas dari masyarakat.

"Selisihnya memang ada, karena kami juga harus hitung biaya lebur, biaya produksi ulang, dan risiko," ujar Insan.

Informasi harga terbaru didapatkan melalui jaringan sesama pedagang untuk mengantisipasi volatilitas kurs dolar AS dan pasar global.

"Makanya toko-toko emas biasanya pantau berita ekonomi. Di sini pedagang juga punya grup sendiri, jadi update harga cepat," ujar Insan.

Insan menekankan pentingnya nota pembelian untuk menjamin keamanan transaksi, meskipun pihaknya tetap terbuka dengan pengawasan ketat.

"Kalau emasnya dari toko resmi dan ada nota, itu lebih bagus. Tapi kalau enggak ada, kami tetap bisa beli, cuma kita lebih hati-hati," kata Insan.

Ketelitian dalam menimbang dan menentukan kadar menjadi pembeda kualitas layanan antara toko formal dengan pedagang kaki lima.

"Kami enggak tahu pedagangnya siapa, timbangannya benar atau tidak, atau kadar yang mereka sebut sesuai atau tidak," kata Insan.

M. Rizal Taufikurahman dari Indef berpendapat bahwa lonjakan harga emas global yang menyentuh angka US$ 2.300 per troy ounce mendorong fenomena ini.

"Secara global, harga emas sudah menembus kisaran US$ 2.200ÔÇô2.300 per troy ounce pada 2026, naik signifikan dibanding periode pra-pandemi," kata Rizal.

Rizal menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga angka Rp 17.000 per dolar AS memperkuat posisi emas sebagai aset aman.

"Di domestik, tekanan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS turut memperkuat preferensi masyarakat terhadap emas fisik," ujar Rizal.

Pasar informal ini dinilai menutup celah bagi masyarakat yang belum tersentuh oleh inklusi investasi digital.

"Inklusi keuangan Indonesia memang sudah mencapai sekitar 88ÔÇô90 persen, tetapi inklusi investasi termasuk emas digital masih jauh lebih rendah," kata Rizal.

Munculnya ekonomi bayangan ini berisiko pada hilangnya potensi penerimaan negara serta lemahnya pengawasan hukum.

"Shadow economy yang berimplikasi pada hilangnya potensi pajak dan lemahnya pengawasan anti pencucian uang," tutur Rizal.

Rizal menyarankan pemerintah untuk memperbaiki regulasi pasar formal agar masyarakat beralih ke transaksi yang lebih transparan dan aman.

"Pendekatan kebijakan yang dibutuhkan bukan sekadar penertiban, tetapi memperbaiki insentif di pasar formal, memperkecil spread harga, meningkatkan transparansi, serta memperluas akses investasi emas yang aman dan terjangkau," jelas Rizal.

Wisnu Danandi dari Antam menegaskan bahwa harga produk mereka sepenuhnya bergantung pada mekanisme pasar internasional dan biaya operasional domestik.

"Harga tersebut kemudian disesuaikan dengan komponen biaya domestik, seperti biaya pengolahan, distribusi, dan margin yang wajar," kata Wisnu.

Perusahaan pelat merah tersebut berfungsi sebagai penyedia produk tanpa menetapkan batasan harga bagi pelaku usaha ritel lainnya.

"Harga emas Antam merupakan harga resmi produk logam mulia yang ditetapkan perusahaan berdasarkan mekanisme internal yang mengacu pada pergerakan harga emas global," ujar Wisnu.

Artikel terkait

Rekomendasi